6.4 C
New York
03/05/2026
Aktual

Pneumonia Pembunuh Balita di Dunia

JAKARTA (Pos Sore) — Pneumonia merupakan pembunuh balita nomor 1. Di dunia, sekitar 1,1 juta balita meninggal pada 2012 padahal dapat dicegah dan diobati. Sebanyak 99% kematian pneumonia terjadi di negara berkembang.

“Di Indonesia sendiri setiap 1,7 menit ada anak yang terkena pneumonia, dan setiap 2,6 menit meninggal dunia karena pneumonia. Setiap 4 dari setiap 100 anak di Indonesia meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka,” kata dr. Sigit Priohutomo, MPH, Direktur Pengendalian Penyakit Menular Langsung (PPML) Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, di Jakarta, Selasa (4/11).

Angka kematian balita bervariasi antar provinsi. Dari yang tertinggi 115 per 1000 kelahiran hidup di Papua, ke yang terendah 28 per 1000 kelahiran hidup di Riau.

Sigit menyebutkan, faktor resiko balita terkena pnemonia antara lain tidak diberikan ASI eksklusif, gizi kurang, tidak mendapatkan imunisasi, berat badan lahir rendah, paparan polusi udara dalam rumah, dan kepadatan penduduk dalam rumah.

Melihat masih adanya penyakit pneumonia maka setiap 12 November ditetapkan sebagai ‘World Pneumonia Day’ dengan Tema nasional ‘Selamatkan Anak dari Pneumonia’. Di Indonesia, pusat peringatan Hari Pneumonia Dunia diadakan di Denpasar pada 8-9 November.

Sementara itu, dr. Nastiti Kaswandani, UKK Respiratory Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berpendapat, pneumonia dapat dicegah dan diobati. Caranya, dengan mengenali gejala pneumonia.

“Gejala dan tanda pneumonia antara lain anak gelisah, frekuensi napas lebih cepat dari biasanya, tampak tarikan dinding dada bagian bawah, dan bibir tampak kebiruan,” paparnya.

Batasan frekuensi napas dalam permenit untuk usia kurang 2 bulan jika frekuensi napasnya 60 berarti ada gejala pneumonia. Untuk usia 2-12 bulan jika frekuensi napasnya 50, dan usia 1-5 tahun frekuensi napasnya 40.

Jika dicurigai pneumonia, balita harus segera dibawa ke puskesmas atau rumah sakit. Balita dengan pneumonia memerlukan oksigen dan obat antibiotik. Jangan memberikan anak obat alternatif atau obat tradisional yang belum terbukti manfaatnya karena dapat memperburuk penyakit.

“Jangan pula membeli obat bebas sembarangan karena dapat membahayakan anak,” tambahnya. (tety)

Leave a Comment