5.7 C
New York
26/04/2026
Ekonomi

Pertumbuhan Industri 2015 Melambat 5,2 persen

JAKARTA (Pos Sore) –Sekretaris  Jenderal Kementerian Perindustrian, Syarif  Hidayat mengungkapkan pertumbuhan industri hingga triwulan ke III 2015 melambat di kisaran 5,21 persen  dibanding periode yang sama sebelumnya yang mencapai 5,73 persen. Akibat kondisi ekonomi global yang masih lesu ditambah belum adanya perkembangan beberapa paket kebijakan ekonomi yang telah diluncurkan,katanya, belum akan berpengaruh besar terhadap peningkatan pertumbuhan industri hingga akhir tahun ini.

“Memang ada paket kebijakan ekonomi,tetapi tidak  bisa instan.Sebetulnya harga gas baru dijadwalkan turun Januari 2015. Demikian juga tarif listrik, belum ada hitunga-hitungan yang jelas.”

Kendati dari paket kebijakan ekonomi pemerintah telah bergulir, katanya, seperti adanya revisi harga tarif listrik untuk industri ataupun  rencana penurunan harga gas, akan tetapi hal ini belum serta merta dirasakan dampaknya bagi kalangan industri. Karena hal ini baru akan terealisasi  Januari mendatang.

“Memang ada paket kebijakan ekonomi,tetapi tidak  bisa instan.Sebetulnya harga gas baru dijadwalkan turun Januari 2015. Demikian juga tarif listrik, belum ada hitunga-hitungan yang jelas,” ungkapnya, di Kemenperin, Jumat  (13/11).

Melihat perkembangan hingga saat ini, ia memperkirakan pertumbuhan industri hingg akhir tahun tidak akan berbeda jauh dibanding triwulan ke-II dan ke III. “Dengan kondisi saat ini dimana incestif untuk industri belum terasa dampaknya, saya kira tidak berbeda jauh. Kalaupun optimis paling pertumbuhan industri diangka 5,5 persen kendati target  kita sekitar 6,8 persen.

Justru,kata Syarif, saat ini insentif yang konkret seperti perpajakan bagi  kalangan industri akan dirasakan akan lebih efisien saat ini selain rencana penurunan harga  gas dan listrik. “Jadi, paket kebijakan ini baru terasa setelah Januari, jadi masih sebatas optimisme saja.”

Perlambatan pertumbuhan industri tahun ini, menurutnya berbeda dibanding krisis ekonomi sebelumnya. Jika dulu krisis ekonomi justru dinikmati komoditi ekspor di industri agro, akan tetapi sekarang ekspor komoditi pertanian seperti karet, sawit juga menurun akibat permintaan di luar negeri juga lesu.

“Ekonomi dunia belum membaik, kita tidak bisa memprediksi tahun depan akan membaik atau belum. Karena negara lain juga menahan diri. Kita genjot ekspor, mereka menahan belanjanya. Ini susah dielakan.”

Sementara faktor internal sendiri,  Syarif mengakui, ketergantungan industri dalam negeri akan bahan baku impor sangat tinggi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.Kondisi ini jatanya, cukup menekan pergerakan industri  kendati masih ada beberapa produk yang menunjukkan pertumbuhan baik seperti, kosmetika,mesin,perlengkapan  atau industri pengolahan lainnya.

“Akibat daya beli di dalam negeri juga melemah, karena kesejahteraan menurun, pendapatan menurun tentunya, mempengaruhi aktifitas produksi.Perekonomian kita yang selama ini dipengaruhi sektor konsumsi harus digerakan ke sektor produksi.”

Kendati demikian,katanya, Kemenperin dalam pelbagai forum resmi tetap mendorong hal-hal atau kebijakan  yang bersifat instan bisa terjadi seperti penundaan pengenaan pajak terhadap industri  galangan kapal yang cukup berdampak siknifikan bagi pertumbuhan industri ini.

Demikian pula dengan lemahnya kekuatan industri hilir selama ini, katanya, Kemenperin akan terus melakukan penguatan dengan kebijakan hilirisasi . Seperti di industri agro yang selama ini dilakukan,khususnya untuk  hilirisasi CPO dan turunannya,ataupun coklat. Selain itu, katanya, Kemenperin juga menggenjot sektor industri hilir kimia. (fitri)

Leave a Comment