5.7 C
New York
26/04/2026
Ekonomi

Perlu Road Map Pengembangan Mobil Listrik

JAKARTA (Pos Sore) –Dirjen Industri Logam Mesin Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian,I Gusti Putu Suryawirawan,mengungkapkan,dibutuhkan road map (peta jalan ) untuk mengembangakan mobil listrik yang di masa depan menjadi tuntutan global dalam menyelamatkan kelestarian lingkungan. Di masa datang.

“Perlu disadari bersama membuat dan memproduksi merupakan dua hal berbeda. Kalau bicara pengembangan mobil listrik hari ini. Apakah kita mampu buat atau produksi. Kalau arahkan mampu membuat, yang kita arahkan adalah penyediaan laboratorium. Kalau produksi, kita harus pikirkan industri komponennya.”

Karena, untuk menjaga kelestarin lingkungan,pemerintah menargetkan penurunan  emisi carbondiaksida (Co2) mencapai 29 persen hingga 2030 (rata-rata 2 persen per tahun).”Ini yang harus disiapkan. Kita tahu perkembangan teknologi kendaraan beremisi rendah begitu cepat terjadi di dunia ini. Padahal di Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) masih ada sinlinder. Ini harus diantisapasi termasuk teknologinya,” ungkap Putu di sela Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Pengembangan Mobil Listrik, di Kementerian Perindustrian, Rabu (24/2).

Putu memaparkan, berbicara soal pengembangan mobil listrik memiliki banyak rvariasi. Ada yang full menggunakan baterai atau fuel cell. Jika berbicara mobil ramah energi atau ramah lingkungan, kita pakai  mobil listrik. Pakai bahan bakar hidrogen. Hal ini akan mempengaruhi  perkembangan kendaraan bermotor saat ini.

Putu mengatakan, bahwa koleganya di Korlantas  sudah mengetahui jumlah  kendaraan yang beredar di kota.  Sebenarnya ini menjadi target market pengembang. “Kalau tidak diantisipasi, kedepan, perkembangan teknologinya  hanya menyisakan Indonesia sebagai pengguna. Kita akan jadi tertinggal.”

Putu mengungkapkan, dalam mengembangkan industri bebeda dengan membuat. Acapkali  kita mengiklankan diri kita sanggup buat pabrik listrik. “Perlu disadari bersama membuat dan memproduksi merupakan dua hal berbeda. Kalau bicara pengembangan mobil listrik hari ini. Apakah kita mampu buat atau produksi. Kalau arahkan mampu membuat, yang kita arahkan adalah penyediaan laboratorium. Kalau produksi, kita harus pikirkan industri komponennya.”

Dengan adanya pasar mobil listrik, katanya, perlu disinergikan industri komponen yang ada dan mampu memenuhi ketentuan. “Makanya dalam FGD ini nantinya kita bisa miliki suatu peta jalan kalau kita mau masuk ke mobil listrik apa saja yang ingin kita siapkan.”

Untuk itu, katanya,pihaknya mengundang  Kementerian Lingkungan Hidup, karena pengembangan ini tak lepas dengan baterai  yang selama ini dikenal sebagai limbah B3. “Oleh sebab itu, kita perlu pikirkan recycle. Jangan sampai industrinya berkembang di Indonesia, tetapi nantinya menjadii tempat membuang limbah batere. “Batere ini ada level-levelnya, macam hape. Dulu pakai batere pakai nikel.Sekarang pakai batere modern. Hal yang sama akan terjadi di mobil listrik. Kita mau pakai batere yang mana nih. Jangan sampai kita Cuma pakai batere yang teknologinya tidak terpakai.”

Putu mengungkapkan, banyak hal yang harus dipirirkan.Mulai motornya. Jika tidak ada kemampuan kita hanya akan menjadi perakit semata. “Harus ada roadmapnya. Bagamiana Gimana harus menguasai  motornya, kerangka mobil. Kalau hanya sertifikasi kendaraan banyaklah yang bikin. Tapi yang masalah itu penggerak dan kopling. Perlu dipikirkan bersama-sama ke depan. Kalau mau mengembangkan kendaraan listrik, perlu dipikirkan banyak hal, termasuk insentif  dan dikecualikan. Visinya harus sama.”

Selain pengembangan teknologi ia berharap Indonesia memiliki  icon sendiri. Karena kalau berbicara tentang mobil listrik nasional, perlu dipikirkan centernya di mana,laboratorium uji yg ada di Korlantas dan Ristekdikti terkoneksi satu sama lain.”

Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengembangan Kendaraan Listrik Bermerek Nasional (Apklibernas), Sukodjo Herupramono menambahkan, untuk pengembangan mbil listri perlu sinergi antara instansi baik Kementerian Lingkungan Hidup, Kolantas,Kementerian Ristekdikti, Kemenperin baik dalam penyediaan laboratorium, risetnya dan kemampuan industri komponen dari kalangan industri dalam menyediakannya.

“Karena, bagaimanapun mobil listrik terkait banyak hal. Ya kebijakannya, risetnya, laboratoriumnya, komponennya dan industri yang mau memproduksi secara massal.” (fitri)

Leave a Comment