10.7 C
New York
04/05/2026
Aktual

Perkuat UMKM Naik Kelas dengan Menjaring Kemitraan

JAKARTA (Pos Sore) — UMKM naik kelas? Apa itu? Apakah bermakna sama dengan siswa yang naik kelas setelah menjalani serangkaian ujian dengan nilai minimal sesuai yang ditetapkan? Persoalan UMKM naik kelas ini menjadi bahasan dalam diskusi bertajuk “Menjaring Kemitraan, Perkuat UMKM Naik Kelas” di Press room Kementerian Koperasi dan UKM, Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Diskusi yang diadakan Forum Wartawan Koperasi (Forwakop), Koperasi Forsema (Forwakop Sejahtera Bersama) serta Kementerian Koperasi dan UKM, itu menghadirkan pembicara Deputi Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM, Abdul Kadir Damanik, serta Ketua Koperasi Telekomunikasi Selular (Kisel), Suryo Hadiyanto.

Deputi Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM, Abdul Kadir Damanik, menjelaskan, pengertian UMKM naik kelas berarti UMKM tersebut naik ke level yang lebih tinggi lagi. Yang semula mikro naik ke level kecil, lalu naik lagi ke level menengah, kemudian naik ke level besar. Sebagaimana halnya siswa naik kelas, UMKM naik kelas juga ada penilaian dan parameter yang terukur dan terarah.

Bagaimana kita bisa mengetahui UMKM naik kelas? Salah satunya bisa dilihat dari data pertambahan jumlah UMKM tiap tahunnya. Lantas, mengapa UMKM naik kelas begitu penting? Karena ternyata, UMKM-lah yang menjadi tulang punggung roda perekonomian Indonesia. Di saat badai krisis moneter menerjang Indonesia, UMKM yang menjadi juru selamat. Di saat perekonomian global melemah yang juga berdampak di Indonesia, lagi-lagi UMKM yang jadi “dewa penolong”.

Data dari Kemenkop dan UKM yang telah diolah menyatakan kontribusi UMKM dalam struktur PDB cukup signifikan yaitu 60,34 persen. Sektor ini juga memberikan ruang bagi penyerapan tenaga kerja nasional hingga 97 persen dan 14,17 persen dari total ekspor. Sementara jumlah UMKM sendiri saat ini mencapai 64,2 juta UMKM dengan total investasi mencapai 58,18 persen. Jika ada UMKM yang tumbuh sebesar 10 persen maka potensi pendapatan negara akan tumbuh sekitar Rp1.872 triliun atau setara pertumbuhan PDB sebesar 8 persen.

“Apabila ada UMKM yang naik kelas sekitar 2,5 persen saja dari jumlah total maka kenaikan PDB berpotensi mencapai tumbuh Rp486 triliun atau setara pertumbuhan ekonomi 5,88 persen. Sementara jika ada 10 persen UMKM yang naik kelas peluang PDB akan tumbuh sebesar Rp936 triliun atau setara PDB 6,59 persen. Semakin banyak UMKM naik kelas, maka semakin besar pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tutur Damanik di hadapan peserta dari pelaku usaha, mahasiswa, bolgger, dan media ini.

Dikatakan, Kemenkop UKM terus berkomitmen untuk mendorong UMKM untuk naik kelas. Hal itu diperlukan untuk memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada pada tren yang positif di tengah tantangan global yang semakin berat. UMKM selama ini dianggap paling tahan terhadap resistensi ekonomi sehingga keberadaannya perlu untuk terus dikuatkan.

“Potensi sektor UMKM untuk mendorong pertumbuhan ekonomi atau PDB nasional terus bertumbuh sangat besar. Namun ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar pertumbuhan ekonomi tersebut bisa melesat sehingga tidak stagnan di sekitar 5 persenan yaitu dengan mendorong UMKM naik kelas. UMKM naik kelas itu penting, sebab persentase UMKM yang naik kelas itu akan menentukan, akan mendorong pertumbuhan ekonomi kita. Masalahanya, UMKM kita ini masih banyak yang belum percaya diri,” ungkapnya.

Beberapa persoalan yang kerap dihadapi UMKM di antaranya adalah SDM dan manajemen yang terbatas dan kurang memanfaatkan teknologi dalam hal produksi hingga pemasaran. Inovasi dari rata-rata UMKM selama ini juga masih minim sehingga bisnis UMKM kerap jalan di tempat. Belum lagi persoalan financial atau modal usaha yang kadang menghambat pelaku UMKM untuk meningkatkan produktifitasnya. Persoalan terakhir yaitu keterbatasan akses pemasaran dan penyediaan bahan baku.

Untuk mengatasi berbagai persaolan tersebut, pemerintah sudah menyiapkan enam strategi jitu. Pertama, memberikan akses pasar yang lebih luas bagi UMKM sektor produksi atau jasa. Kedua, memberikan dukungan pembiayaan ketika UMKM tidak dapat mengakses pembiayaan melalui perbankan. Ketiga, memberikan kemudahan serta kesempatan berusaha.

Keempat, meningkatkan daya siang produk UMKM dengan mendorong UMKM memiliki standar kualitas mutu tertentu. Kelima, pengembangan kapasitas manajemen SDM pelaku UMKM dengan terus melakukan pendampingan baik secara online ataupun offline. Keenam, bersinergi dengan Kementerian dan Lembaga terkait dan stakeholder lainnya agar lima strategi tersebut dapat berjalan sesuai harapan.

“Dari keenam strategi itu kita harapkan bisa ada perubahan di mana UMKM bisa menjadi bagian dari global value chain. Kemudian juga bisa tetap melahirkan enterpreneur baru. Itu yang akan kita tuju dalam 5 tahun ke depan,” tandas Abdul Kadir Damanik.

Sementara itu, Ketua Koperasi Telekomunikasi Selular (Kisel), Suryo Hadiyanto, menambahkan untuk bisa menscale up koperasi dan UMKM perlu ada terobosan-terobosan yang dilakukan oleh pengurus koperasi atau pelaku UMKM itu sendiri. Menurutnya, koperasi dan UMKM wajib memanfaatkan perkembangan teknologi untuk dapat memasarkan produk-produknya. Dengan begitu pangsa pasar dari koperasi dan UMKM juga akan semakin luas.

Setidaknya, Kisel melakukan tiga terobosan yaitu dengan membuat sebuah aplikasi, memperluas channel dan platform baru. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memastikan produk-produk dan layanan dari Kisel tersertifikasi atau memenuhi standar yang ditentukan. Dengan begitu daya saing dan tingkat kepercayaan customer terhadap produk dan layanan dari Kisel terjamin.

“Kita bangun people, sistem dan teknologi. Kita juga sertifikasi SDM kita sebab bagaimanapun sebagai institusi kalau kita sendiri tidak bisa berikan standar mutu tingkat internasional, nggak mungkin customer kita percaya. Dengan punya sertifikasi itu bahkan semua unicorn mau kerjasama dengan kita, karena mereka firm dan yakin Kisel udah ikuti standar dunia,” kata Suryo.

Kisel saat ini beranggotakan 6.797 orang yang merupakan karyawan dari PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Kisel sendiri memiliki tiga unit bisnis utamanya yaitu Sales and Channel (S&C), General Services (GS), dan Telco Infrastructure & Power Engeenering. Dari tiga unit bisnis ini Kisel berhasil mendirikan lima perusahaan yaitu PT Kinarya Alih Daya Mandiri (KAM), PT Kinarya Alih Selaras (KST), PT Kinarya Selaras Piranti (KSP), PT Kinarya Selaras Solusi (KSS) dan PT Kinarya Mandiri Konstruksi.

Suryo menyatakan Kisel menargetkan pada 2020 membidik target omset hingga Rp7 triliun. Dengan digitalisasi usaha dan inovasi yang terus dilakukan oleh Kisel saat ini bisa mencapai omset sebesar Rp6 triliun. “Tahun 2020 nanti kita harap bisa sentuh Rp7 triliun, kalau bisa kita optimalkan lagi agar bisa mencapai Rp8 triliun,” tutup Suryo. (tety)

Leave a Comment