Dengan pemahaman penerapan AI yang seimbang, komunitas masyarakat sipil dapat lebih gesit untuk mengatasi permasalahan masyarakat di tengah tantangan dunia yang semakin kompleks.
Septiaji menambahkan banyak persoalan publik dewasa ini tidak lagi dapat diselesaikan hanya dengan kerja manual atau pola pikir lama.
Dari deteksi hoaks, pemetaan masalah sosial, analisis tren, hingga produksi konten edukatif, kini membutuhkan bantuan AI agar hasilnya lebih presisi dan berdampak.
Pendekatan tersebut, lanjutnya, harus dapat diakses oleh siapa pun yang bekerja untuk kepentingan masyarakat.
Salah satu sorotan penting pelatihan ini adalah kehadiran Faith Chen, News Partnerships, Google APAC, yang menekankan pemanfaatan AI secara bertanggung jawab.
Masyarakat sipil, katanya, memiliki peran besar dalam memastikan teknologi ini tidak memperparah polarisasi, melainkan memperluas ruang aman digital.
Dalam pemaparannya, Chen menjelaskan bagaimana teknologi AI membuka peluang baru bagi organisasi masyarakat sipil untuk memperluas jangkauan kerja mereka, terutama bagi komunitas dengan sumber daya terbatas.
AI seharusnya dilihat bukan sebagai sistem rumit yang menghambat, melainkan sebagai rekan kerja yang dapat meringankan beban operasional, menganalisis data secara cepat, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti.
