Ia menekankan pentingnya deteksi dini, karena otot jantung yang sudah mati tidak bisa diperbaiki. Kalau serangan jantung tidak ditangani dalam enam jam, ototnya bisa mati.
“Karena itu, deteksi harus cepat. Di Medistra, perlengkapan untuk deteksi dan intervensinya lengkap,” ucapnya.
Ia meminta masyarakat jangan menunggu munculnya keluhan sebelum memeriksa jantung. Ia menyarankan pemeriksaan rutin dimulai sejak usia 30 tahun, bahkan lebih dini bagi mereka yang memiliki gaya hidup tidak sehat.
“Jangan tunggu rusak baru ke dokter. Sama seperti mobil, harus ganti oli sebelum mesinnya rusak. Kalau telat, biayanya justru lebih besar,” ujarnya.
Dengan pendekatan minimal invasif, waktu pemulihan yang cepat, dan potensi penghematan biaya medis, RS Medistra menegaskan komitmennya untuk memberikan layanan jantung yang modern, efektif, dan humanis bagi masyarakat luas.
Hal senada juga dikatakan oleh dr. Birry Karim, yang berhasil menangani kasus jantung pada pasien berusia 25 tahun tanpa operasi.
“Untuk kasus tersebut kami lakukan intravaskular imaging, dan ternyata pada kasus tersebut pasien hanya mengalami otot jantung yang mengkeret maka cukup diberikan obat, dan pasien bisa normal kembali,” ucap dr. Birry Karim.
Terkait bedah kardiovaskular, Dr. Linda Lison dan dr. Agustian menyampaikan bahwa tindakan minimal invasif masih menjadi alternative terbaik dalam penanganan jantung.
Namun menurut dr. Agustian, di Medistra para dokter akan melakukan observasi terlebih dahulu kepada pasien, sehingga bisa memilih tindakan tepat bagi pasien.
