JAKARTA (Pos Sore) — Pentingnya pemenuhan gizi di awal kehidupan bagi pertumbuhan positif generasi bangsa sudah terlihat di berbagai negara. Pemenuhan gizi awal kehidupan sebagai modal untuk membangun hidup sehat, cerdas, dan produktif bagi generasi mendatang harus menjadi perhatian semua negara, termasuk Indonesia.
“Seribu hari pertama kehidupan adalah periode penting bagi pertumbuhan anak-anak. Karena pada periode ini terjadi pertumbuhan fisik dan penambahan masa otak, serta pengembangan signifikan kemampuan kognitif, tulang, imunitas, sistem pencernaan, dan organ-organ metabolisme,” papar Dr. Martine Alles, Direktur Developmental Physiology & Nutrition Danone Nutricia Early Life Nutrition, Belanda.
Begitu pemaparannya dalam Nutritalk bertema ‘Sinergi Pengetahuan Lokal dan Keahlian Global bagi Perbaikan Gizi Anak Bangsa’, di Jakarta, Jumat (20/3). Nutritalk yang digelar Sarihusada ini mengangkat contoh-contoh pengalaman di berbagai negara dalam mengoptimalkan gizi yang tepat sebagai solusi bagi berbagai persalahan kesehatan. Contoh-contoh pengalaman ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Indonesia dalam melakukan perbaikan-perbaikan gizi.
“Belanda mendokumentasikan perubahan pertumbuhan generasi yang positif sejak 1858, yang dicerminkan dari peningkatan rata-rata tinggi badan, dari sekitar 163 cm pada awal abad 19 sampai dengan sekitar 184 cm pada akhir abad 20,” lanjutnya.
Ia menambahkan, khusus dalam 42 tahun sejak 1955 sampai 1997, Belanda mencatat peningkatan rata-rata tinggi badan hampir 10 cm pada anak, remaja, dan dewasa muda. Selain masalah kebersihan dan keluarga berencana, kontributor utama bagi perubahan pertumbuhan generasi yang positif ini adalah peningkatan gizi dan kesehatan anak.
“Selain tinggi badan, Belanda juga mengalami peningkatan berat badan lahir. Pada 1989-1991 rata-rata berat badan lahir adalah 3370 gram, sedangkan pada 2004-2006 meningkat menjadi 3430 gram,” ungkapnya.
Dia menandaskan, bangsa Belanda telah membuktikan pengaruh kuat gizi terhadap kualitas pertumbuhan di awal kehidupan. Pada Perang Dunia II, wanita-wanita Belanda yang mengalami kurang gizi dan gizi buruk akibat kelaparan, melahirkan bayi-bayi dengan berat badan lahir rendah dan memiliki risiko tinggi terhadap obesitas, sindrom metabolisme, dan diabetes pada usia dewasa.
Kasus internasional juga menunjukkan vitamin D sebagai salah satu zat gizi yang mempengaruhi kualitas pertumbuhan anak-anak. Pada abad 19 terjadi insiden penyakit riketsia (pertumbuhan tulang dalam bentuk abnormal) yang melanda Eropa dan Amerika Serikat, khususnya di daerah perkotaan, yang disebabkan oleh kurang terpaparnya anak-anak pada sinar matahari.
“Pengobatan yang dilakukan kemudian adalah penggunaan minyak ikan pada abad 20 dan penetapan vitamin D sebagai fortifikasi mentega sejak 1961. Meningkatkan penyakit riketsia ternyata menyingkap manfaat lain vitamin D. Selain memperbaiki pertumbuhan tulang, vitamin D juga berpengaruh terhadap imunitas adaptif,” tambah Dr. Martine Alles. (tety)
