JAKARTA (Pos Sore) – Saat ini masyarakat dunia tengah mengalami perubahan. Nilai-nilai global masuk ke semua aspek kehidupan. Di sisi lain, nilai-nilai lokal yang sarat dengan muatan-muatan kebajikan semakin cepat termajinalkan.
Dalam pengaruhnya yang lebih mendalam, situasi ini dapat berimplikasi pada semakin melemahnya identitas kebangsaan dan kebanggan warga negara terhadap bangsa dan negaranya.
“Mengantisipasi kondisi ini, maka bagi bangsa Indonesia perlu merumuskan menanamkan kembali Nilai Keindonesiaan kepada seluruh rakyat Indonesia,” kata Ketua Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB) Iman Sunaryo.
Ia menegaskan hal tersebut pada penutupan Diskusi Panel Serial (DPS) ‘Membangun Budaya dan Nilai Keindonesiaan Demi Masa Depan Bangsa’, di Jakarta, Sabtu (3/12). Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani menjadi pembicara kunci dalam penutupan DPS.
Nilai Keindonesiaan adalah nilai budaya bangsa Indonesia yang menurut Struktur Lapisan Budaya merupakan lapisan luar dari Pancasila selaku Inti Budaya.
Budaya bangsa tidak semata hanya kesenian, tetapi mencakup mindset atau ‘pikiran dan akal budi’ masyarakat.
Dalam konteks kebangsaan, maka budaya persatuan akan menjadi perekat kehidupan bersama melalui persamaan nilai-nilai luhur yang dianut bersama.
“Nilai budaya berperan sebagai perisai atau pelindung kebulatan makna Pancasila, yang di lain pihak menyerap nilai positif dari modernsasi akibat kemajuan jaman,” tegasnya.
Ketua Pembina YSNB Pontjo Sutowo, menjelaskan, DPS sendiri berlangsung selama 1,5 tahun. Mengapa diskusi diadakan secara serial dan dalam jangka panjang karena memang banyak aspek yang dibahas. Yaitu mengenai ‘Sejarah Peradaban Nusantara’, ‘Dinamika Proses Keindonesiaan’, ‘Referensi Global’ dan ‘Tantangan Masa Depan’.
“Juga dibahas bagaimana ‘Menanamkan Nilai Budaya Bangsa’ itu kepada warga negara Indonesia, kelak,” ujarnya.
Selama penyelenggaraan DPS, YSNB berhasil menghadirkan lebih dari 30 pembicara, para pakar dan ahli dari berbagai disiplin ilmu, maupun praktisi.
“Dapat dilaporkan pula secara komprehensif DPS berhasil menjaring sebanyak 45 nilai budaya terpilih yang kemudian dikerucutkan 5 nilai utama yang keseluruhannya merupakan ‘Nilai Keindonesiaan’,” tambahnya.
Lima nilai utama yang dimaksud yaitu Kepribadian Pancasila, Kemerdekaan Indonesia, Nasionalisme, Wawasan Nusantara, Ilmu Pengetahuan, dan Amanah.
“Demikian pentingnya proses pembentukan Nilai Keindonesia yang dihasilkan, kami akan menerbitkan buku Nilai Keindonesiaan pada Januari 2017,” tutupnya. (tety)
