16.1 C
New York
23/04/2026
AktualNasional

Pentingnya Air Bersih dalam Beragama, Kemanusiaan, dan Berbangsa

JAKARTA (Pos Sore) — Islam menempatkan air sebagai sarana mempersatukan umat. Umat manusia tidak akan sehat dan beriman dalam beragama jika tidak tersedia air bersih. Karena itu, betapa sangat pentingnya air dalam umat beragama, kemanusiaan, dan bangsa.

Begitu persoalan yang mengemuka dalam webinar bertajuk ‘Sehat dan Beriman Minus Air Bersih’, Jumat 23 Desember 2022, yang diadakan MPP ICMI (Majelis Pimpinan Pusat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) Bidang Kesehatan

Webinar ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, M.Kes (Ketua Bidang Kesehatan dan Water Hygiene Sanitation PP PMI), dr. Ahmad Kadarsyah, M.Sc (Ketua Yayasan Wakaf IKRA Padjajaran), dan Dr. Ir. Rusnandi Gasardi, M.Sc (Penemu Teknologi Micro Hidrautic Water Treatment)

Dalam pengantarnya, Ketua Departemen Upaya Kesehatan Masyarakat MPP ICMI Dr. Zaenal Abidin, MH, menyampaikan ada sejumlah alasan mengapa webinar mengangkat masalah air bersih.

Pertama, karena Desember ini adalah musim hujan dan banjir. Saat terjadi banjir masyarakat pun berteriak kekurangan air bersih. Kedua, karena sering memukan rumah tangga, rumah sakit, masjid, kampus, sekolah, dan pesantren, yang kekurangan air bersih.

Ketiga, air bersih merupakan masalah hulu dan hilir dari kesehatan karena dibutuhkan oleh orang sakit untuk dapat sembuh. Keempat, air bersih merupakan kebutuhan keimanan dan ketakwaan semisal untuk beribadah seperti wudhu, mandi wajib, memandikan jenazah, dan lain-lain.

Kelima, hampir semua peradaban besar, lahir dan berkembang di sekitar sumber air bersih. Sebutlah peradaban kuno Sumeria di Mesopotamia Selatan (Lembah S. Tigris dan S. Efrat), Mesir kuno (Lembah S. Nil), India kuno (Lembah S. Indus dan S. Punjab).

Atau di China kuno (Lembah S. Kuning), Mekah (sekitar Sumur Zam-Zam), Saba’ di Yaman (sekitar Bendungan Saba’). Perhatikan pula munculnya peradaban dan kota-kota besar di Indonesia.

Keenam, air pada abad modern ini dibutuhkan untuk keperluan rumah tangga, pertanian/perkebunan, industri, pertahanan, transportasi, pertambangan, wisata/olahraga, pendidikan, penelitian, dan lain-lain.

Ketujuh, karena sumber air bersih sering menjadi pemicu konflik. Bahkan menjadi rebutan di kala perang. Sehingga ada ungkapan, “siapa yang menguasai sumber air, merekalah yang akan memenangkan peperangan”.

Alasan lainnya, karena air bersih merupakan kebutuhan primer ketika terjadi bencana. Dan bencana lingkungan pertama dalam sejarah kuno terjadi karena air, yaitu terjadinya Salinasi di Sumeria (2037 – 2004 SM), yang menyebabkan petani gagal panen.

Prof. Dr. dr. Fachmi Idris, M.Kes memberikan pandangan kunci sukses dalam melaksanakan program membangun ketangguhan masyarakat di bidang air dan sanitasi, adalah keterlibatan relawan siaga bencana berbasis masyarakat (SIBAT), ataupun relawan di tingkat Desa/Kelurahan dan kader-kader Kesehatan.

Selanjutnya, pemangku kepentingan yang ada di wilayah desa/kelurahan dan diketahui langsung oleh pimpinan wilayahnya. Aparatur pemerintah juga menjadi keharusan sebagai bentuk upaya untuk menjaga keberlanjutan program setelah dukungan berakhir.

Sementara itu dr. Ahmad Kadarsyah, M.Sc menjelaskan negeri peradaban tinggi, baldatun thayibun wa rabbun ghafur, hancur karena mismanajemen air dengan jebolnya Bendungan Marib.

Pelajaran dasar kemajuan bangsa adalah ketersediaan air bersih untuk pertanian dan kesehatan. Setelah air tersedia untuk kebutuhan minum manusia perlu penjernihan.

Adapun Dr. Ir. Rusnandi Gasardi, M.Sc menjelaskan ketersediaan air bersih sangat penting bagi setiap daerah. Ketersediaan air bersih sangat tergantung dalam karakteristik tipografi daerah.

Karena itu, diperlukan kajian yang lebih detail dalam pemenuhan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan kemanusiaan agar tidak terjadi kekurangan air bersih.

Bagaimanapun air bersih merupakan salah satu kebutuhan vital di masyarakat dalam berbagai kepentingan mulai dari irigasi, pertanian, kehutanan, industri, pariwisata, air minum, dan masih banyak lagi.

Permasalahan yang terjadi adalah kualitas air permukaan yang semakin menurun. Saat ini, dunia berada pada kondisi krisis air bersih.

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada 2019 mencatat, 2,2 miliar orang atau seperempat populasi dunia masih kekurangan air minum yang aman dikonsumsi.

Sebanyak 4,2 miliar orang tidak memiliki layanan sanitasi yang aman dan 3 miliar tidak memiliki fasilitas cuci tangan dasar.

Secara global, hampir 1.7 milyar kasus diare pada anak terjadi setiap tahunnya (WHO, 2017). WHO juga melaporkan setiap tahun diare membunuh sekitar 525.000 anak di bawah lima tahun.

Kurangnya air bersih dan sanitasi serta kebersihan yang memadai, WHO (2015) memperkirakan dari semua kasus diare dapat disebabkan air minum yang tidak adekuat (34%), sanitasi (19%), dan hygiene (20%) (Permatasari & Sinuraya, 2016).

Karena itu, disebutkan area intervensi yang secara signifikan dapat mencegah kejadian diare adalah melalui ketersediaan air yang layak, serta sanitasi dan higiene yang memadai.

Masalah kesehatan yang disebabkan faktor air dan sanitasi yang buruk menjadi persoalan lanjutan baik pada situasi normal maupun bencana.

Ketua Umum ICMI Prof. Arif Satria menyampaikan, sebagai organisasi cendekiawan muslim, ICMI harus bisa berperan untuk mendorong lahirnya SDM Indonesia yang berkualitas.

ICMI harus mampu menjadi jembatan dan mitra untuk mendorong pembangunan SDM yang bisa menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk mendorong terwujudnya Indonesia sebagai negara maju 2045.

Wakil Ketua ICMI Prof. Dr. Riri Fitri Sari M.Sc, MM menambahkan karena air bersih sebagai kepentingan bersama dalam menciptakan kebahagian keluarga ke depannya berbagai masalah kekurangan air terus dirasakan oleh masyarakat.

Karena itu, ICMI harus ambil bagian dari strategi dan taktik pengembangan ICMI hari ini dan di masa mendatang.

Terlebih pada 2045, saat Indonesia mencapai usia 100 tahun merdeka, penduduk dunia diperkirakan mencapai 9,45 miliar atau bertambah 1,45 miliar dari tahun 2022.

Pada saat itu, lebih dari separuh pertumbuhan penduduk dunia akan disumbang oleh kawasan Afrika dan Asia. Investasi SDM dan infrastruktur serta reformasi struktural dan iklim usaha telah mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, berdaya saing, dan berkesinambungan di kawasan Asia.

Leave a Comment