JAKARTA (Pos Sore) –Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2019 sasaran strategisnya menciptakan wirausaha kecil menengah sekitar 24.500 orang ( wirausaha baru sekitar 20 ribu orang, wirausaha menengah 4.500 orang). Termasuk rasio penyebaran sekor IKM Jawa ke luar Jawa dengn perbandingan 60,34:39,66.
“Bukan hanya IKM, semua Eselon I sebagai interface kemenperin harus mampu menampung semua persoalan mewakili republik ini.Kementerian harus mengembangkan four point zero di era digital sekarang ini.”
Namun, kata Airlangga hal ini tidak mudah dan perlu kerja keras antar instansi baik di Kementerian Perindustrian dan kementerian di luar. Untuk itu, ia berpesan pada Dirjen IKM yang baru dilantik Gatih Wibawaningsih lebih giat melihat kondisi IKM di lapangan dan memberikan solusi atas persoalan yang ada.
“Bukan hanya IKM, semua Eselon I sebagai interface kemenperin harus mampu menampung semua persoalan mewakili republik ini.Kementerian harus mengembangkan four point zero di era digital sekarang ini,” ungkap Erlangga usai melantik Dirjen IKM Gatih Wibawaningsih menggantikan Euis Saedah yang memasuki usia pensiun, di Kemenperin, Rabu (14/9).
Erlangga menambahkan, IKM juga harus mencari dan membuat kebijakan terobosan dalam mempercepat pertumbuhan dan penyebaran IKM.Termasuk meningkatkan daya kreatifitas, inovasi dan daya saing agar produk IKM bisa mengisi ceruk pasar dan mampu bersaing di era globalisasi semakin ketat.
Untuk itu, ia juga meminta kepada pejabat di eselon I lainnya saling membantu,bersinergi dan bekerjasama sesuai kapasitas masing-masing agar sasaran pertumbuhan industri bisa tercapai.
Gatih pada kesempatan itu menegaskan, bahwa pengembangan IKM tak hanya difokuskan kepada batik semata.Akan tetapi ke depan akan lebih dikembangkan untuk tenun yang juga tak kalah bagus. “Untuk itu kita akan bekerjasama dengan pemerintahan Kupang untuk pengembangan tenun ikat sebagai warisan budaya dunia (world heritadge) dan dipromosikan melalui museum batik dunia.”
Untuk penyediaan bahan baku tenun ini,katanya, pihaknya akan bekerjasama dengan Kementerian Pertanian yang saat ini menyediakan lahan sekitar 50 hektar untuk bahan baku tenun. “Memang selama ini ada miss komunikasi dalam mengatasi persoalan IKM.”
Ke depan,kata Gatih, pemda harus mendukung pengembangan IKM ini termasuk menyediaan bahan baku. Untuk penyediaan bahan pewarna, katanya, IKM akan merangkul balai tekstil dan kerajinan serta kalangan universitas seperti UTS dan UGM. “Saya kira kita bisa teruskan kerjasama ini. Semua sudah OK. Masalah IKM ini tidak bisa kita tangani sendiri karena menyangkut banyak intansi seperti , Kementan,Kemenkes, Kementerian UMKM. Semua harus berkoodinasi. “ (fitri)
