JAKARTA (Pos Sore) — Mayor Inf Agus Harimurti Yudhoyono akhirnya ditetapkan ‘Koalisi Cikeas’ sebagai Cagub DKI 2017-2022, berpasangan dengan Sylviana Murni. Karir TNI putra sulung SBY yang tengah menanjak ini pun harus berakhir sampai di sini.
Banyak yang menyayangkan keputusan tersebut. Mantan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri termasuk yang menyayangkan hal itu. Menurutnya, langkah yang dipilih Agus menjadi preseden buruk bagi TNI.
“Penunjukan dan kesediaan Agus sebagai perwira yang masih muda menjadi cagub DKI adalah contoh yang kurang elok bagi generasi muda TNI. Pasalnya, dari awal pendidikan dan pelatihan hingga masa penugasan, seorang prajurit ditempa untuk menjadi tentara sejati, dan bukan politisi,” ujar Kiki.
Ia dimintai komentarnya usai menjadi narasumber dalam Diskusi Aliansi Kebangsaan bertema ‘Pancasila sebagai Acuan Nilai Dasar dalam Perumusan Kebijakan Negara’, di Jakarta, Jumat (23/9).
Kiki berpendapat, pencalonan Agus adalah contoh negatif bagi pembinaan TNI. Agus Yudhoyono yang memilih sebagai politisi dapat menularkan teladan buruk bagi generasi muda TNI lainnya.
‘Fenomena Agus’ ini dinilainya membuat pimpinan TNI tidak dapat mencegah perwira-perwira muda yang berambisi menceburkan diri ke dalam politik praktis guna meraih kekuasaan politik.
“Apa yang ditunjukkan dalam pencalonan Agus menjadi contoh buruk tentang bagaimana masa depan, karir dan pembinaan prajurit telah dikorbankan demi kepentingan pribadi, kelompok dan partai,” tandasnya.
Dengan fenomena ini, ke depan tidak ada yang bisa mencegah jika ada prajurit-prajurit muda kita yang memutuskan untuk meninggalkan tugas keprajuritan guna meraih kekuasaan politik.
Salah satu pendiri Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) sangat menyayangkan kesediaan Agus Yudhoyono menerima pinangan partai untuk menjadi politisi. Seharusnya, kata Ketua Badan Pengkajian PPAD, itu Agus Yudhoyono tetap bersikukuh sebagai prajurit TNI.
“Sejak masuk pendidikan dan pembinaan di dunia militer, kemudian mendapat penugasan dalam perjalanan karirnya, seorang prajurit TNI sudah ditanamkan nilai-nilai keprajuritan sesuai isi Sapta Marga dan Sumpah Prajurit,” ungkapnya.
Salah satu nilai ideal yang harus diusung dan dihayati setiap prajurit adalah kerelaan untuk mengabdi negara dan bangsa hingga tuntas, bahkan dengan berani mengorbankan nyawa sekalipun. Itu berarti, setiap prajurit niscaya memiliki keyakinan dan kesetiaan untuk tetap berada dalam koridor pengabdian demi NKRI hingga usai masa dinasnya di lingkungan TNI, kecuali jika memang ditugaskan pimpinannya untuk tugas-tugas khusus demi bangsa dan negara.
“Prajurit sejati tidak memperhitungkan kepentingan pribadi, kelompok dan golongan, karena yang diutamakan adalah kepentingan nasional yang dijaganya dengan setia mengabdi sebagai prajurit TNI,” tandasnya.
Kiki juga menilai penunjukan Agus tersebut juga menunjukkan inkonsistensi dari SBY. Saat masih menjabat presiden, SBY menegaskan para perwira lulusan akademi TNI dan Polri seharusnya tidak bercita-cita menjadi politisi atau pejabat politik, mulai dari tingkat gubernur sampai walikota.
“Kemampuan, kepemimpinan dan karakter keprajuritan Agus belum sepenuhnya teruji sebagai prajurit TNI. Karakter dan kepemimpinan seorang perwira militer terutama dibentuk dalam penugasan di lapangan, bukan semata dari buku-buku atau bangku sekolah,” kata mantan Pangdam IX/Udayana tersebut.
Karenanya, Kiki yang pernah menjadi Panglima Penguasa Darurat Militer Timor Timor usai jajak pendapat 1999, menghimbau TNI khususnya para perwira muda dapat memetik pelajaran dari pencalonan Agus. Meski itu menjadi hak pribadi, mereka harus tetap memegang janjinya untuk membebaskan diri dari jebakan kepentingan politik, sehingga berkonsentrasi penuh dalam pengabdian kepada bangsa dan negara sebagai prajurit TNI.
“Para prajurit TNI telah mendapat pendidikan, pelatihan, dan pembinaan guna memiliki kompetensi militer, keterampilan militer, dan karakter keprajuritan. Itu semuanya tidak murah dan memakai uang rakyat. Jadi, setialah mengabdi NKRI sebagai prajurit TNI yang sejati,” tegasnya. (tety)

