JAKARTA (Pos Sore) – Pemerintah membangun Posko Bencana Kekeringan Nasional 2015 menyusul musim kemarau berkepanjangan yang menyebabkan wilayah Indonesia mengalami kekeringan.
Menteri Perdagangan Rahmat Gobel, Menteri Maritim Indroyono Susilo, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumah Rakyat Basuki Hadimuljono, Kapolri Jenderal Badrodin Haiti, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kepala BMKG Andi Eka Satya, Kepala BNPB Syamsul Maarif, BPPT Heru Widodo, dan Kepala BPS Suryamin, menghadiri pembukaan posko tersebut.
Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan penanganan kekeringan pada tahun 2015 dengan pengadaan ribuan pompa air dan alat pendukung lainnya agar dapat mengurangi dampak kekeringan, yang jauh lebih baik dari tahun lalu.
Mentan mengklaim antisipasi kekeringan tahun ini sudah dilakukan sejak awal tahun ini karena bencana kekeringan yang sejumlah wilayah sudah diprediksi sebelumnya. Salah satunya, dengan menyalurkan pompa air ke sejumlah daerah yang dipilih berdasarkan kecocokannya dengan penggunaan pompa.
“Ada 21 ribu pompa yang disalurkan ke Jawa Timur karena ada Bengawan Solo, Jawa Barat karena ada Cimanuk, dan juga ke beberapa daerah yang memiliki sumur dangkal, seperti Nusa Tenggara Timur,” sebut Amran Sulaiman, di Jakarta, Senin (10/8).
Selain itu, hujan buatan juga akan digunakan. Untuk merekayasa cuaca ini, Kementerian Pertanian menurut Amran sudah berkoordinasi dengan beberapa kementerian dan lembaga.
“Kami akan lakukan hujan buatan dan semoga dalam satu dua hari ke depan sudah bisa disiapkan dan ditindaklanjuti,” katanya.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan TNI akan dimintai bantuan untuk membuat hujan di kawasan yang dilanda kekeringan ini. Kepala BNPB Syamsul Maarif juga mengatakan sudah menyiapkan hujan buatan ini sejak dua bulan yang lalu.
Amran menegaskan, tidak semua lahan pertanian, terutama tanaman padi mengalami kekeringan. Ada 76,3 persen dari 14 juta hektar tanaman padi yang sudah bisa dipanen sebelum terdampak kekeringan.
“Jadi jangan diasumsikan semua kekeringan,” tegasnya.
Meski begitu, ia mengakui ada sekitar 15 persen lahan pertanian yang harus benar-benar diperhatikan. Lahan pertanian ini belum masuk masa panen pada periode September hingga Oktober atau saat kemarau masih melanda.
“Karena akhir Oktober kabarnya sudah turun hujan maka yang perlu diperhatikan adalah panen pada September dan Oktober,” kata Amran.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya, menjelaskan, kekeringan yang terjadi di Indonesia saat ini disebabkan oleh fenomena El Nino atau anomali suhu permukaan laut samudera Pasifik.
Diperkirakan, cadangan air tanah di Indonesia masih bisa digunakan untuk mandi dan minum masyarakat hingga November 2015. El Nino akan terjadi pada Agustus hingga Desember. Dampaknya, musim hujan akan datang terlambat. Hal itu membuat musim kemarau akan lebih panjang dibanding biasanya.
“Daerah-daerah di Indonesia yang berpotensi terkena dampak El Nino 2015 meliputi Sumatera Selatan, Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan,” kata Andi.
NTT dan NTB bahkan sudah masuk kemarau sejak Maret lalu dan baru akan masuk musim hujan pada November 2015. (tety)
