17.8 C
New York
08/05/2026
Aktual

Pancasila Solusi Berbagai Permasalahan Bangsa

JAKARTA (Pos Sore) — Aliansi Kebangsaan pimpinan Pontjo Sutowo kembali mengadakan diskusi bertema ‘Pancasila sebagai Acuan Nilai Dasar dalam Perumusan Kebijakan Negara (Ipoleksosbudhankam)’. Sebagai ideologi bangsa, Pancasila tetap menarik untuk terus didiskusikan dalam mencari solusi berbagai permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.

Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri yang menjadi narasumber diskusi bulanan itu menegaskan, ideologi Pancasila masih akan tetap menjadi benteng dari ancaman yang datang dari dalam dan luar.
“Ancaman paling aktual saat ini adalah ideologi transnasional dan hegemoni global,” jelasnya.

Dikatakan, ada dua negara saat ini yang menjadi ancaman nyata terkait ideologi transnasional dan hegemoni global, yaitu China dan AS.

“Secara militer, China memang bukan ancaman buat Indonesia, tapi secara ekonomi dan kependudukan, menjadi ancaman. Mereka (China) ‘masuk’ biasanya dengan cara memberikan bantuan,” terangnya.

Dalam hal ideologi Transnasional, ancaman yang terlihat nyata adalah meningkatnya individualisme/liberalisme/kapitalisme, khilafahisme, evangelisme amerika, dan faham radikal lainnya.

Selain itu, sebagian kecil anak-cucu PKI dengan motif balas dendam, juga menjadi sumber ancaman yang ingin membuat kondisi Indonesia menjadi tidak stabil.

“Yang lebih parah lagi, kita mengalami masalah fundamental. Sistem kenegaraan saat ini tidak cocok. Ada tumpang tindih fungsi di lembaga-lembaga kenegaraan, misalnya antara Komisi Yudisial, Mahkamah Konstitusi, dan Mahkamah Agung. Juga ada rebutan fungsi antara DPR dan DPD,” jelasnya.

Untuk itu, lanjut dia, solusi mendesak saat ini adalah dengan mengkaji ulang UUD 2002, mereformasi parpol dan birokrasi, meningkatkan dan memperkuat keamanan nasional (kesadaran bela negara), meningkatkan pembangunan nasional, pembangunan dan penegakan hukum/HAM. Yang lebih penting lagi adalah, memperkuat pembangunan karakter (budaya) bangsa.

Guru Besar Ekonomi-Politik UI Prof. Dr. Didin S. Damanhuri menambahkan, Pancasila sebagai kekuatan ideologis tidak bisa hanya bersifat doktriner dan normatif semata seperti selama ini.

“Ideologi Pancasila harus ditransformasikan menjadi ideologi terbuka dengan memasukan kontribusi ilmu pengetahuan, teknologi dan social keagamaan,” jelas anggota Jaring Cendekia Aliansi Kebangsaan, ini.

Ia menyakini, dengan menjadi ideologi terbuka, Pancasila diharapkan dapat menjelaskan dan menganalisis serta menjadi instrument kritik, membuat umpan balik dan memperbaiki keadaan masyarakat secara rasional, terbuka dan ideologis dalam interaksinya sesama stakeholder bangsa.

Sementara itu, negarawan Yudi Latief, Ph.D lebih menyoroti persoalan pembangunan karakter bangsa. Menurutnya, karakter bangsa memiliki fungsi ekonomi dan politik yang menjadi sangat penting di era globalisasi saat ini.

“Contoh negara Denmark, yang indeks kebahagiaannya merupakan yang tertinggi di dunia. Ternyata, dalam pendidikan mereka, nilai kejujuran merupakan hal yang paling ditekankan. Di Indonesia, bukan itu yang paling ditekankan,” jelasnya. (tety)

Leave a Comment