5.7 C
New York
26/04/2026
Ekonomi

P3DN Baja Masih Sebatas Syarat Lolos Tender Proyek Pemerintah

JAKARTA (Pos Sore) — Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika,Kementerian Perindustrian,I Gusti Putu Suryawirawan menyayangkan, kebijakan Peningkatan Penggunan Produk Dalam Negeri (P3DN) dalam mengikuti tender di proyek pengadaan pemerintah khususnya untuk komoditi baja dan logam hanya dipakai sebagai kedok bisa lolos dalam memenangkan tender. Kenyataan di lapangan, belum digunakan untuk pengembangan industri baja di dalam negeri.

“Sayangnya, kebijakan ini hanya dipakai sebagai syarat. Yang penting menang tender, habis itu tidak peduli dengan industrinya. Saya harap dengan program tower sutet yang tengah dikembangkan pemerintah bisa meningkatkan utilisasi produksi industri baja kita. Bisa menumbuhkan investasi baru, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan teknologi baru.”

Hal ini disampaikan Putu di sela launching Steel Indonesia International Expo yang bakal digelar pada 7-9 September 2016 di Kemayoran, Rabu (4/11), di Kemenperin. Hadir pada kesempatan itu, Direktur Eksekutif Indonesia Iron Steel Industry Assosiation (IISIA), Hidayat Trisaputro,Komisaris PT Kayana,Erns K Remboen dan Ketua Asosiasi Pabrikasi dan Tower Indonesia S Hapsari.

Putu memaparkan, penggunaan baja dan logam lokal justru akan menumbuhkan industri yang ada di dalam negeri yang saat ini sudah mampu menghasilkan baja berkualitas sesuai kriteria dan klasifikasi yang dibutuhkan industri.

“Sayangnya, kebijakan ini hanya dipakai sebagai syarat. Yang penting menang tender, habis itu tidak peduli dengan industrinya. Saya harap dengan program tower sutet yang tengah dikembangkan pemerintah bisa meningkatkan utilisasi produksi industri baja kita. Bisa menumbuhkan investasi baru, penyerapan tenaga kerja dan peningkatan teknologi baru.”

Apalagi, sesuai UU Perindustrian 2013 telah dinayatakan industri baja dan logam sebagai salah satu dari 10 industri unggulan yang diprioritaskan pemerintah. Mestinya dengan UU ini pengembangan industri baja harus memikirkan pengembangan jangka panjang dan berkelanjutan baik terkait ketersediaan energi,bahan baku dan infrastruktur pendukung.

“Untuk ini tentu ada intervensi pemerintah khususnya dalam hal pembelanjaan. Karena pengembangan industri baja bukan hanya sebagai penentu pertumbuhan ekonomi akan tetapi juga ketersediaan rantai pasok pada penggunanya.”

Makanya, dengan adanya pameran baja ini diharapkan pemerintah sebagai stakeholder bisa menggerakan 50 persen kapasitas baja nasional untuk P3DN. Dengan belanja anggaran pembangunan pemerintah mencapai Rp300 triliun nantinya akan tentu bisa mengangkat dan menumbuhkan industri baja di dalam negeri dan tak lagi ketergantungan impor.

Terkait masih banyaknya baja impor dengan harga miring yang banyak berasal dari China, menurut Putu, pemerintah tidak bisa melarang kecuali mereka melakukan perdagangan yang tidak fair, melakukan dumping atau sejenisnya. “Kalai menggunakan mekanisme tarif kita sudah tidak bisa, justru yang bisa kita lakukan adalah menerapkan SNI (Standarisasi Nasional Indonesia) dan P3DN tadi.”

Direktur Eksekutif Indonesia Iron Steel Industry Assosiation (IISIA), Hidayat Trisaputro menambahkan, dengan adanya pameran yang 100 persen menampilkan produk lokal ini nantinya, akan mampu membuka mata pelaku usaha dan pemerintah menggunakan produk baja di dalam negeri yang sudah berkualitas. Dengan  begitu industri baja di dalam negeri kembali bergairah dan mampu mandiri dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Maraknya impor baja dari China dan Vietnam tentunya kata Hidayat, akan sangat mempenagruhi perkembangan industri baja di dalam negeri.

Data dari Kemenperin mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 352 perusahaan baja nasional yang dengan kapasitas sekitar 14 juta ton per tahun mampu menyerap sekitar 200 ribu tenaga kerja. Di sisi lain nilai ekspor baja mencapai US$2,23 miliar masih tidak berimbang dengan impor baja yang nilainya mencapai US$12,58 miliar. Padahal kebutuhan baja nasional hingga 2014 mencapai 12,7 juta bisa ditutupi dengan kapasitas produksi baja nasional yang ada.

Untuk itu, dengan adanya pameran baja nasional bertaraf internasional ini nantinya, bisa menggerakan pertumbuhan industri baja di dalam negeri dan mampu melawan baja impor yang harganya sangat murah. (fitri)

Leave a Comment