05/05/2026
Aktual

Omset Triliunan, Koperasi KPL Mina Sumitra Dirikan SMK Mitra Maritim

JAKARTA (Pos Sore) — Kementerian Koperasi UKM terus dan sedang melanjutkan program pemerintah reformasi total koperasi. Ada tiga langkah yang dilakukan, yaitu rehabilitasi koperasi, reorientasi, dan pengembangan koperasi.

Untuk langkah pertama, Menteri Koperasi UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, mengungkapkan sudah menunjukkan hasil. Kemenkop dan UKM sudah membekukan sebanyak 62 ribu koperasi dari total 206 ribu koperasi secara nasional.

“Jumlah ini tidak saja besar, tapi terbanyak di dunia, meski sumbangan pada PDB paling kecil. Saat ini baru 1,7% sumbangan koperasi pada PDB,” kata menkop, yang bersama Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, meninjau SMK Mitra Maritim yang dibangun koperasi KPL Mina Sumitra, di Karangsong, Indramayu, Jawa Barat, pada Kamis (26/11).

Menkop menambahkan, koperasi aktif yang kini berjumlah 147 ribu diberikan NIK (nomor induk koperasi). Sementara untuk mengaktifkan koperasi-koperasi yang tidak dimasukkan dalam database, akan dibina dan diberi pendampingan agar jangan sampai tidak aktif lagi.

Untuk langkah kedua yaitu re-orientasi koperasi, difokuskan pada kualitas bukan kuantitas koperasi. Koperasi tidak harus banyak jumlahnya, yang penting berkualitas. Bukan berarti koperasi tidak boleh banyak, tapi buat apa buat banyak koperasi kalau hanya mengandalkan bantuan pemerintah.

“Sekarang pemerintah lebih berorientasi pada masyarakat sendiri yang mau buat koperasi. Jadi bottom up, bukan top down. Tidak boleh lagi pemerintah membantu untuk masyarakat bikin koperasi. Biar masyarakat dulu yang bentuk, baru pemerintah melihat apa yang dibutuhkan,” kata menkop.

Bagaimana dengan langkah ketiga yaitu pengembangan Koperasi? Dalam upaya ini, Kemenkop mendorong koperasi-koperasi yang memiliki omset triliunan untuk membuka cabang di luar negeri. Atau juga membangun pabrik maupun usaha, termasuk membuka sekolah maupun perguruan tinggi.

“Nah, SMK Mitra Maritim yang dibangun koperasi KPL Mina Sumitra ini bisa menjadi contoh, dan nyambung dengan program Presiden Jokowi yang mendeklarasikan koperasi harus melakukan reformasi total,” tambahnya.

Menurutnya, pembangunan SMK Mitra Maritim oleh koperasi bentuk dari langkah pengembangan koperasi. Selain sebagai salah satu pengembangan, nanti didorong lagi agar bisa mengembangkan usaha lain, terutama memudahkan masyarakat sekitar dalam ekonpmi dan tentunya anggotan.

Terkait pengembangan koperasi, menkop memberikan contoh di Mojokerto, ada koperasi yang mampu membangun pabrik gipsum. Pabrik ini dibangun di atas lahan seluas 600 hektar dengan investasi sebesar Rp260 miliar. Koperasi ini mampu bangun pabrik karena omsetnya mencapai Rp2 triliun lebih.

“Nah, koperasi-koperasi yang sudah menembus omset Rp5 trilunan, kita dorong untuk buka cabang di luar negeri, terutama negara yang banyak TKI seperti Malaysia, Hongkong, Korea, dan terus di mana-mana,” harap menkop.

Dalam pengembangan koperasi nantinya juga diharapkan koperasi Indonesia masuk dalam daftar koperasi internasioanal tidak saja satu, tapi lebih dari dua koperasi yang berskala rangking 120 dunia.

“Saya juga baru bertemu pemilik brand Harley Davidson yang siap bikin koperasi atau membantu koperasi dengan menjual atau menyediakan merchandise Harley Davidson lewat koperasi. Jadi dalam pengembangan ini harus bisa riil dan dirasakan langsung masyarakat,” ujarnya.

Menkop pun kembali menegaskan, pihaknya sudah melaksanakan, sedang dan akan terus melanjutkan ketiga langkah dalam reformasi total koperasi, yaitu rehabilitasi, re-orientasi, dan pengembangan koperasi.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, dalam kesempatan itu, meminta masyarakat nelayan membentuk koperasi wanita untung menampung aspirasi ibu-ibu setempat.

“Saya berharap sekolah yang dibangun koperasi ini bisa menghasilkan lulusan ahli perikanan dan perkapalan. Saya berharap orang indonesia yang bekerja di kapal asing mau kembali bekerja di Indonesia. Satu lagi harapan saya, ibu-ibu harus membentuk koperasi sendiri untuk menopang kebutuhan keluarga dan mengisi kekosongan waktu,” pinta Susi.

Di akhir acara, kedua menteri menggelar dialog pada masyarakat nelayan yang mayoritas anggota KPL Mina Sumitra yang saat ini memililki omset Rp31 miliaran. (tety)

Leave a Comment