13.6 C
New York
27/04/2026
Kesra

New Normal, Begini Sekolah Beradaptasi

JAKARTA (Pos Sore) — Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, mengatakan, pendidikan pada era new normal harus beradaptasi dengan kebiasaan baru agar para siswa dan guru dan warga sekolah terlindung dari wabah, dan dapat belajar kembali dengan normal. Pihak-pihak ini harus mematuhi protokol kesehatan mengingat keselamatan dan kesehatan menjadi pertimbangan utama pada era new normal.

“Namun, hak anak untuk memperoleh layanan pendidikan juga harus tetap terlayani. Dengan demikian, dapat membawa pendidikan kita memasuki sistem yang baru, yang intinya adalah mengubah perilaku keseharian yang mungkin baru sama sekali,” tuturnya saat menjadi narasumber dalam diskusi virtual yang membahas “Paradoks Antara Tahun Ajaran Baru dan Kehidupan Normal Baru”, Sabtu (6/6/2020).

Diskusi yang diadakan oleh Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (Koalizi), Literasi Sehat Indonesia (Lisan), dan Departemen Kesehatan BPP Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan, ini juga menghadirkan narasumber Kak Seto Mulyadi, Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI).

Menurutnya, cara yang tepat melakukan pendidikan pada era new normal adalah siswa harus didorong untuk melakukan kebiasaan hidup bersih, seperti menggunakan masker, cuci tangan, olah raga serta makan makanan sehat dan bergizi. Social-distancing juga tetap harus dikondisikan. Perilaku hidup bersih dan sehat harus sesuai protokol kesehatan.

Cara lainnya dengan mengatur ulang jumlah siswa per-kelas, jam istirahat, jam belajar, dan kerumunan keluar masuk sekolah. Keharusan mengajar 24 jam juga harus ditinjau ulang. Tata kelola Pendidikan harus diperbarui. “Untuk melakukan pendidikan era new normal, di mana saja bisa dilakukan yang penting aman, bisa di sekolah bisa juga di rumah,” tandasnya.

Berdasarkan survey internal yang dilakukannya, ia menyebutkan, baru 45% jaringan internet masuk sekolah, siswa yang memiliki gadget terbatas, infrastruktur internet masih terbatas, cuaca dan letak geografis mempengaruhi kualitas koneksi, tegangan listrik tidak stabil dan sering terjadi pemadaman listrik.

Selain itu, tidak ada tenaga khusus yang mengelola TIK di sekolah, guru terkadang merangkap teknisi, kurangnya kemampuan tenisi sekolah dalam mengelola jaringan, keterbatasan sarana dan prasarana TIK (kompouter/laptop), kurangnya pengetahuan guru dan siswa terhadap portal pembelajaran.

“Hanya sekitar 16% guru yang siap melakukan pembelajaran online, dan sebanyak 46% guru yang baru mengenal pembelajaran online. Belum lagi kurikulum dan pelatiahan masih berorientasi konten dan pembelajaran terbiasa face to face relationship,” terangnya.

Karenanya, pembelajaran dapat dilakukan secara online (daring), offline (luring), dan campuran daring-luring (blended learning). Masa pandemi ini adalah momentum untuk melakukan hal-hal besar dan mendasar.

Setelah pandemi berlalu, sekadar menormalkan praksis sekolah tidaklah cukup, yang diperlukan adalah transformasi, yaitu “desain besar” untuk merubah sistem pendidikan secara mendasar. Bukan dengan menaikan APK atau APM seperti yang kini banyak dilakukan, tetapi melakukan perubahan menyeluruh dan mendasar kurikulum sekolah, baik dominasi kontennya maupun remodeling sistem pembelajarannya.

“Untuk mewujudkan impian anak didik maka inovasi, riset, pengembangan model-model dan teknologi pembelajaran harus terus dikembangkan. Guru harus menjadi contoh bagi anak untuk berperilaku hidup sehat. Jika guru menjadi contoh maka anak-anak murid akan ikut,” tutur Prof. Unifah.

Pada era pasca pandemi nanti, transformasi pendidikan akan sukses jika dalam kurikulum sekolah itu dirancang program-program pendidikan dengan standar-standar kompetensi yang jelas dan terukur. Kemendikbud harus merancang banyak aplikasi digital sistem mikro mulai dari pembelajaran, asesmen, pelatihan guru termasuk manajemen sekolah, baik online maupun offline. (tety)

Leave a Comment