JAKARTA (Pos Sore) — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga, menyerukan kepada masyarakat untuk bersama–sama mengambil peran dan bersatu dalam upaya mengakhiri kekerasan terhadap perempuan.
Bintang Puspayoga juga mengajak masyarakat agar berani bersuara, untuk melaporkan kekerasan yang dialami atau dilihat.
Keberanian untuk melapor akan menjadi penting untuk memberikan keadilan kepada korban.
“Mari kita berani laporkan dan mengungkap kasus yang dialami maupun dilihat,” ujar Menteri PPPA, dalam Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP) bertema “Bersatu Akhiri Kekerasan Terhadap Perempuan”, di Jakarta, Selasa 6 Desember 2022.
Menteri menegaskan jangan menganggap kasus kekerasan adalah aib. Dengan melapor maka akan memberikan keadilan pada korban dan efek jera kepada pelaku.
“Karena itu, penting untuk kita bergerak bersama–sama mengampanyekan dare to speak up,” tegasnya.
Menteri PPPA mengatakan beberapa tahun belakangan ini, Kemen PPPA terus mengampanyekan gerakan “Dare to Speak Up”.
Perempuan yang berani bersuara akan menjadi dorongan bagi penyintas kekerasan lainnya untuk turut berani melapor.
Dengan demikian, korban bisa mendapatkan keadilan dan layanan yang dibutuhkannya, serta memberikan efek jera terhadap pelaku.
Terkait dengan pelaporan kasus, KemenPPPA sendiri memiliki Call Center Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA) 129.
Call Center ini sebagai wadah pelaporan kekerasan terhadap perempuan dan anak, yang diapat diakses melalui telepon ke 129, atau WhatsApp 08111-129-129.
“Saya mengajak seluruh masyarakat yang hadir di sini untuk turut melaporkan kekerasan yang dialami ataupun dilihat,” ujar Menteri PPPA.
Menteri PPPA menyampaikan saat ini telah ada payung hukum khusus untuk memberikan perlindungan terhadap korban kekerasan seksual, yaitu UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.
“Dengan telah berlakunya Undang-Undang tersebut, saya berharap akan semakin banyak masyarakat yang berani melapor, dan penyintas mendapatkan perlindungan komprehensif dari hulu ke hilir, dimulai dari tindakan pencegahan,” kata Menteri PPPA.

Pada kesempatan ini, KemenPPPA juga sekaligus meluncurkan hasil analisis Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) Tahun 2021.
“Apresiasi yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Badan Pusat Statistik (BPS) dan United Nations Population Fund (UNFPA) yang telah bekerja sama dengan kami dalam penyusunannya,” ujar Menteri PPPA.
Menteri PPPA menuturkan analisis tersebut menjelaskan secara mendalam temuan kunci dari SPHPN Tahun 2021.
Di antaranya terkait isu Kekerasan berbasis gender online (KBGO), Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Kekerasan Seksual, Female Genital Mutilation atau Pemotongan dan Perlukaan Genitalia Perempuan, serta rekomendasi yang diberikan untuk menurunkan kekerasan terhadap perempuan.
Kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan yang diselenggarakan KemenPPPA ini juga turut dimeriahkan dengan Edutainment (live music) Stop Kekerasan terhadap Perempuan, dan Flashmob gerakan SAPA 129 yang diikuti oleh seluruh peserta.
Selain itu, terdapat pemberian apresiasi dan penghargaan kepada 3 orang perempuan penyintas kekerasan yang telah berani bersuara dan mengungkapkan kasus yang mereka alami.
Penghargaan ini juga sekaligus memberikan penguatan kepada perempuan korban kekerasan lainnya untuk berani melakukan hal yang sama.
Mereka berpesan jangan takut untuk menyuarakan kebenaran, karena tidak boleh ada kekerasan terhadap siapapun dan dalam bentuk apapun di muka bumi ini.
“Jadi katakan tidak pada kekerasan, berani bersuara, dan carilah tempat – tempat yang menjadi ruang aman untuk kita berbicara,” ujar salah satu penyintas.
Dalam acara ini juga terdapat pemberian apresiasi terhadap 3 orang pemenang Lomba Video Kreatif dengan tema “Perempuan Indonesia Berdaya Tanpa Kekerasan”.
Salah satu upaya mengampanyekan pentingnya membangun lingkungan yang aman dan ramah bagi perempuan, dan bebas dari kekerasan.
Adapun pemenang lomba tersebut diberikan kepada Grup Better (Ilham Raka Prabhaswara) dari Surabaya, Grup Badge X (Dyera Calista Nayla Putri) dari Tropodo, dan Jauhar Nafi Itsbat dari Jepara.
Direktur Utama PT SARINAH, Fetty Kwartati sangat mendukung acara kampanye ‘Bersatu Akhiri Kekerasan Terhadap Perempuan’ di Sarinah.
Fetty menyampaikan Sarinah adalah seorang perempuan. Karena itu, salah satu misi utama Sarinah adalah pemberdayaan perempuan.
Sarinah berkomitmen untuk menjadi panggung yang ramah bagi para perempuan Indonesia. Saat ini, mayoritas UMKM yang ada di Sarinah merupakan pengusaha perempuan. Sarinah membuka peluang yang lebar untuk perempuan Indonesia.
