11.3 C
New York
04/05/2026
Aktual

Metode Kanguru, Perawatan Esensial pada Bayi Prematur

JAKARTA (Pos Sore) — Mengapa bayi prematur berisiko tinggi mengalami kematian? Penyebab utamanya, bayi yang lahir sebelum umur kehamilan 37 minggu itu kondisi organ tubuhnya belum tumbuh sempurna atau matang. Kondisi ini membuat bayi rentan mengalami masalah kesehatan.

“Penyulit pada bayi prematur banyak dan cukup komplek, mulai dari sulit bernafas saat lahir, infeksi, sampai gangguan metabolisme,” kata Kepala Instalasi Maternal Perinatal (IMP) RSUP dr Sardjito, dr. Setya Wandita, Sp. A (K), M.Kes, saat ditemui di Jakarta.

Dengan kondisi tersebut, berdampak pada perawatan bayi prematur yang begitu komplek dengan peralatan medis yang banyak pula.

Semakin prematur maka bertambah komplek dan mahal pula biaya perawatan si bayi, sehingga peran orangtua dalam perawatan di rumah sakit sangat penting. Tak jarang, setelah bayi pulang dari rumah sakit, bayi prematur juga masih berisiko terjadi sakit akibat organ tubuhnya yang lemah.

Setyo menjelaskan, bayi prematur terbagi menjadi tiga. Yakni, berat bayi lahir rendah (BBLR) di bawah 2500 gram-1500 gram, berat lahir sangat rendah di bawah 1500-1000 gram, dan berat lahir ekstrim rendah di bawah 100 gram .

Biasanya bayi akan ditempatkan pada inkubator mengingat pengaturan suhu bayi belum baik. Namun ternyata ada cara yang lebih mudah untuk mempertahankan suhu bayi kecil ini. Yaitu dengan menggunakan metode kanguru, yang melibatkan kontak kulit ibu dan bayi. Tentunya dengan melihat kondisi si bayi.

Menurutnya, metode kanguru yaitu bayi didekap/ditempelkan ke tubuh ibunya dalam keadaan telanjang dan diselimuti, merupakan perawatan esensial pada bayi prematur. Dengan metode ini, sang bayi merasa berada lingkungan yang nyaman dan paling alamiah.

“Karena dengan metode Kanguru seperti halnya pada watu bayi masih di dalam rahim, dia masih mendengarkan denyut jantung ibu,” paparnya.

Nama kanguru digunakan karena metode penanganan bayi prematur ini meniru perilaku binatang asal Australia yang menyimpan anaknya di kantung perutnya, sehingga diperoleh suhu optimal bagi kehidupan bayi.

Di Indonesia, metode ini sudah diterapkan ketika Kementerian Kesehatan bernama Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial (Depkes dan Kesos). Metode ini menjadi kebijakan Pelayanan Kesehatan Neonatal Esensial. Metode kanguru digunakan sebagai salah satu cara pencegahan hipotermia dalam Perawatan Neonatal Dasar.

Di RSUP Dr Sardjito sendiri peralatan yang canggiih untuk menangani bayi prematur telah disiapkan agar bayi prematur tidak sekedar selamat. Khusus untuk perawatan bayi prematur di RSUP Dr Sardjito disiapkan fasilitas khusus yakni yakni ruang rawat intensif (level III). Kapasitas ruang perawatan ini tidak berdesak-desakan.

‘’Meski ruang perawatan intensif untuk pasien prematur dilengkapi dengan peralatan canggih yang mahal-mahal, tetapi tetap berlaku bagi pasien BPJS maupun PBI (Penerima Bantuan Iuran),’’ tandasnya.

Karenanya, ia menepis anggapan bayi-bayi prematur yang mendapatkan perawatan komplek di RSUP dr. Sardjito, berasal dari keluarga mampu.

“Ada pasien yang melahirkan prematur dengan berat hanya 1.080 gram dan harus dirawat di NICU RSUP Dr Sardjito selama 73 hari. Biayanya sekitar Rp45 juta, tetapi ia hanya membayar Rp 1 juta,’’ ungkapnya. (tety)

Leave a Comment