23.2 C
New York
14/06/2024
Kisah Sukses

Meraih Rupiah Dengan Mesin Jahit Tradisional

SUARA mesin jahit manual terdengat sayup-sayup di hening malam di sebuah desa yang jauh dari keramaian kota. Pak Soleh (55 th) terus menggoyangkan kakinya dan tangannya yang sudah mulai berkeriput mengatur kain sesuai dengan jalannya alur jarum mesin jahit merk Singer.

Di Kelurahan Heram, Distrik Abepura, Kabupaten Jayapura, Papua, suara mesin jahit pak Soleh selalu terdengar di malam hari, karena di siang hari Pak Soleh berjualan pakaian hasil jahitannya di Pasar Tradisional Hamadi. Bagi pelanggan tetapnya, hasil jahitan Pak Soleh lebih nyaman dipakai ketimbang celana jadi yang dijual di toko maupun outlet-outlet kecil di Jayapura.

Profesinya sebagai tukang jahit sudah dijalaninya sejak pertama kali menginjak kaki di Jayapura pada dekade tahun 1970an. “Ini sudah turun temurun. Bapak saya tukang jahit, ibu saya tukang jahit, bahkan kakek saya juga tukang jahit di kampung kami di Bugis,” katanya.

Soleh meninggalkan kampung halamannya menuju Jayapura, karena mendengar kabar dari kerabatnya bahwa berusaha apapun di Papua (Irian Jaya -Red) waktu itu pasti berhasil, karena provinsi itu masih membutuhkan pekerja informal untuk menggerakkan perekonomiannya. “Jujur saja tidak ada penduduk asli yang bisa menjahit pakaian saat itu. Sekarang sih sudah banyak yang bisa,” tutur Soleh.

Semula pelanggannya hanya terdiri dari para pegawai negeri dan anak sekolah saja yang menjahitkan pakaian seragam mereka, katena tidak ada satu tokopun yang menjual pakaian seragam siap pakai. Tempo itu harga sebuah celama panjang saya kenakan tarif Rp1.500-Rp3000 saja. Sedangkan satu setel pakaian sekolah Rp2000. Sekarang, kata lelaki paruh baya itu, untuk celana panjang saya kenakan tarif Rp400 – Rp500 ribu.

Dari hasil usaha itu, Soleh bisa menyekolahkan dua anaknya sampai ke perguruan tinggi. Satu di antaranya sudah menjadi Aparatur Sipil Negara dan satu yang lagi masih kuliah di Universitas Negeri Cenderwasih.

Lain cerita Pak Soleh, lain pula kisah Pak Fuad. Lelaki berusia hampir 50 tahunan di Blok D, komplek Serang Plaza. Pak Fuad adalah sosok penjahit yang jujur dan berucap apa adanya. Berjualan jasa sebagai tukang jahit dilakoninya sudah puluhan tahun. Walau kehidupan ekonominya tak pernah berubah namun kesetiaannya kepada profesi dan rasa tanggung jawab menghidupi istrinya merupakan kekuatan untuk tetap melakoni usaha ini.

Hari demi hari Pak Fuad melewatinya dengan menjahit dan terus merenda masa depan melalui kepercayaan yang diberikan oleh pelanggannya. Saat sakitpun laki-laki paruh baya ini tetap menjahit untuk memberli keperluan keluarga dan menjaga kepercayaan konsumen yang berharap celananya bisa segera dikerjakan oleh orang tua ini. (hasim husein)

Leave a Comment