JAKARTA (Pos Sore)— Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga memilai pelemahan rupiah hingga menembus Rp14 ribu per dolar AS, belum berdampak bagi pelaku koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah (KUMKM) di Indonesia.
“Belum terasa karena produk mereka tidak menggunakan bahan baku impor. Bahan baku mereka menggunakan produk lokal. Jadi, gonjang-ganjing rupiah belum berdampak untuk mereka,” tegas menkop usai menerima Bupati Manggarai Timur Yoseph Tote dan Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kabupaten Tumenggung Rony Nurhastuti, di Jakarta, Kamis (27/8).
Bupati Manggarai Timur Yoseph Tote juga sependapat. Setidaknya itu dibuktikan oleh koperasi dan UMKM di wilayahnya yang hingga kini belum terkena dampak dari melemahnya rupiah.
“Tidak ada pengaruh, karena semua kebutuhan masyarakat menggunakan produk murni lokal hasil UKM. Ekonomi wilayah kami terbantu dengan adanya kekuatan pelaku usaha koperasi dan UMKM,” kata Yoseph.
Bahkan, hasil dari sumber daya alam di Manggarai Timur seperti kopi, cengkeh, dan coklat diekspor ke Eropa.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kabupaten Tumenggung Rony Nurhastuti menyebutkan hal serupa. Dia mengatakan, di wilayahnya tidak terpengaruh pelemahan rupiah karena hampir semua produk UMKM di wilayahnya menggunakan bahan baku dari dalam negeri.
“Beberapa produk seperti kopi diekspor ke luar negeri seperti kopi jenis Arabika merek Sindoro Sumbing diekspor ke Korea. Sedangkan produk makanan ringan asal Tumenggung sudah masuk pasar di Bali, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagian Pulau Jawa,” sebutnya.
Meski begitu, Puspayoga mengakui pelemahan rupiah berdampak bagi UKM yang menggunakan produk impor.
“Jelas berdampak karena impor itu terkait kurs rupiah terhadap dolar. Ditambah lagi dengan kurangnya daya beli masyarakat untuk bisa membeli produk tersebut,” katanya. (tety)
