12.5 C
New York
10/05/2026
Aktual

Menko Puan Sebut Indonesia Kekurangan Peneliti dan Perekayasa

IMG-20150804-09641

JAKARTA (Pos Sore) – Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, mengatakan, dalam era globalisasi, peran Iptek dalam sektor produksi semakin menentukan. Negara yang memiliki kemampuan Iptek berkualitas akan memiliki daya saing yang lebih tinggi.

Menurut World Economic Forum (WEF), Indeks Kompetitif Global Indonesia pada 2014/2015 berada di peringkat ke-34 naik dibandingkan tahun 2013/2014 yang berada pada peringkat 38. Namun demikian, dari 12 pilar Indeks Kompetitif Global, Indonesia masih tertinggal di empat pilar, yaitu: infrastruktur, kesiapan teknologi, pendidikan tinggi dan training, serta inovasi.

“Kita tentu berharap, peringkat Indonesia akan terus meningkat secara berkelanjutan dan semakin berdaya saing tinggi apabila didukung oleh penelitian, teknologi dan inovasi yang kuat. Semua pihak menjadi tumpuan negara dalam meningkatkan Indeks Kompetitif Global Indonesia,” kata Puan saat menjadi keynote speech dalam Rapat Koordinasi Iptek 2015, di Jakarta, Selasa (4/8).

Menurutnya, untuk menjadi negara besar dengan penelitian dan inovasi yang kuat, Indonesia memerlukan dukungan sumber daya penelitian yang kuat. Sayangnya, di bidang SDM, jumlah peneliti dan perekayasa kita masih sangat minim dibandingkan negara-negara maju.

Pada 2013, misalnya, jumlah peneliti dan perekayasa di lembaga litbang hanya sekitar 11.234 orang, sedangkan pengajar/peneliti di perguruan tinggi negeri dan swasta jumlahnya sekitar 120.492 orang. Dengan kata lain, secara keseluruhan hanya ada sekitar 529 peneliti dari setiap 1 juta jiwa penduduk.

Ia mengakui, keterbatasan dana menjadi satu tantangan klasik yang kerap menerpa lembaga penelitian di Indonesia. Tak heran, akselerasi perkembangan riset dan teknologi di Indonesia tidak sepesat di negara-negara maju yang memiliki kemampuan menyediakan dana riset yang tinggi.

Rata-rata alokasi anggaran riset di Indonesia hanya berkisar 0,08 persen dari produk domestik bruto (PDB). Padahal menurut rekomendasi United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organisation (UNESCO), rasio anggaran Iptek yang memadai adalah sebesar 2 persen dari PDB.

“Sementara itu, persentase anggaran untuk kegiatan riset sejauh ini masih didominasi anggaran pemerintah, yaitu 81,1 persen, sedangkan swasta 14,3 persen dan perguruan tinggi 4,6 persen,” ungkapnya. (tety)

Leave a Comment