JAKARTA (Pos Sore) — Rasa bangga rakyat terhadap bangsa Indonesia saat ini mulai luntur. Terlihat dari mulai jarangnya rakyat Indonesia menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya pada acara-acara seremonial, bahkan saat lagu tersebut dinyanyikan tidak ada rasa hormat dan khidmat.
“Rasa hormat terhadap lagu kebangsaan maupun kepada bendera merah putih bukan tanpa makna,” tegas Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, saat memberikan kuliah umum padakegiatan Penulisan Karya Ilmiah yang diadakan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), di Jakarta, Senin (23/2)
Puan menandaskan, lagu kebangsaan dan bendera kebangsaan merupakan hasil yang didapat dari perjuangan para pendahulu kita atau founding father dalam merebut kemerdekaan dari tangan penajajah. Tanpa adanya perjuangan dari pendahulu kita untuk merebutkemerdekaan tentu tidak ada negara yang namanya Indonesia.
“Jadi adalah penting rasa bangga terhadap bangsa sendiri,” tandasnya dalam pidato Kuliah Umum bertajuk ‘Menciptakan Sumber Daya Manusia yang Berbudaya Nasional danBerwawasan Internasional’ ini.
Karenanya, Kemenko PMK akan mendorong Kementerian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah untuk mewajibkan lagi kurikulum Pendidikan Pancasila, sejak dari SD sampai SMA/SMK. Antara lain dengan kewajiban agar semua sekolah menggelar upacara bendera, sedikitnya satu kali dalam sepekan.
“Karena dari pelaksanaan upacara bendera inilah murid-murid sekolah akan menghayati lagu kebangsaan Indonesia Raya, menghormati bendera merah putih sebagai bendera nasional danmengenal pancasila sebagai identitas nasional,” jelasnya.
Menurutnya, identitas nasional Indonesia adalah sifat-sifat khas bangsa Indonesia yang membedakannya dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa, agama dan pulau-pulau yang dipisahkan oleh lautan.
Karena itu, nilai-nilai yang dianut masyarakatnya pun berbeda-beda. Nilai-nilai tersebut kemudian disatupadukan dan diselaraskan dalam Pancasila.
“Nilai-nilai ini penting karena merekalah yang mempengaruhi identitas bangsa. Oleh sebab itu, nasionalisme dan integrasi nasional sangat penting untuk ditekankan padadiri setiap warga Indonesia agar bangsa Indonesia tidak kehilangan identitas,” tuturnya.
Menko PMK mengatakan, persoalan yang kita hadapi saat ini adalah bagaimana mempertahankan Pancasila sebagai Identitas Nasional yang kini dikepung oleh proses globalisasi yang tak dapat diabaikan oleh setiap masyarakat dan bangsa di dunia ini.
Tidak ada satu pun manusia, masyarakat, dan bangsa yang luput dari pengaruh globalisasi. Menurutnya, inti kehidupan berbangsa adalah budaya. Apabila budaya bangsa diusik, makaterusiklah pula identitas bangsa itu.
Gelombang globalisasi dapat melunturkan rasa kebangsaan atau identitas bangsa. Sebab itu diperlukan usaha-usaha agar budaya dan identitas bangsa akan tetap hidup dan berkembang di dalam budaya global,” lanjutnya.
“Titik tolak dari kedua hasil usaha ini tidak lain pada SDM yang dikembangkan berdasarkan budaya bangsa itu sendiri. Tidak ada orang lain yang akan mempertahankan kebudayaannya sendiri selain pendukung kebudayaan itu sendiri, yaitu manusia dan bangsa yang memilikinya,” katanya.
Hadir dalam kesempatan itu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Prof. Malik Fajar, dan Ketua Umum DPP IMM Beni Pramula. (tety)
