18/01/2026
AktualEkonomi

Menjaga Pekerjaan, Menjaga Indonesia: Pernyataan Akhir Tahun HIMKI 2025

POSSORE.ID, Jakarta — Menjelang senja di penghujung 2025, deru mesin di bengkel-bengkel kayu desa masih terdengar. Di sanalah denyut industri mebel dan kerajinan Indonesia bekerja—sunyi, namun menopang jutaan kehidupan. Dari tangan-tangan terampil para perajin, ekonomi nasional bertahan bukan lewat angka semata, melainkan lewat pekerjaan yang terus ada dan penghidupan yang tetap berjalan.

Abdul Sobur Ketua Umum DPP Himpunan Industri Mebel dań Kerajinan Indonesia (HIMKI)

Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur, menyebut tahun 2025 sebagai pengingat penting bahwa kekuatan ekonomi sejati bertumpu pada manusia. Bukan hanya pada statistik pertumbuhan, melainkan pada kemampuan negara menjaga warganya tetap bekerja dengan bermartabat, terutama di sektor-sektor padat karya yang hidup jauh dari pusat kekuasaan ekonomi.

Industri furnitur dan kerajinan adalah wajah nyata dari ekonomi tersebut. Ia tumbuh di desa-desa, menyatu dengan komunitas lokal, dan menjadi penopang utama penghidupan keluarga. Secara nasional, sektor ini menyerap jutaan tenaga kerja langsung dan tidak langsung—mulai dari perajin, pekerja produksi, hingga pelaku usaha kecil di sepanjang rantai pasok bahan baku, logistik, dan distribusi.

“Di balik satu kursi, satu meja, atau satu karya kerajinan, ada kehidupan yang saling terhubung,” tutur Abdul Sobur, pendiri sekaligus CEO PT Global Kriya Nusantara yang berlokasi di Bandung Jawa Barat. Bagi HIMKI, menjaga industri ini tetap hidup berarti menjaga daya beli masyarakat, menahan laju urbanisasi berlebihan, sekaligus merawat keseimbangan sosial di daerah.

Dalam lanskap global yang belum sepenuhnya stabil—ditandai ketegangan geopolitik, fluktuasi permintaan, dan perubahan pola perdagangan—HIMKI menegaskan bahwa menjaga industri padat karya bukan soal proteksi berlebihan. Yang dibutuhkan adalah konsistensi kebijakan, kepastian arah, dan iklim usaha yang sehat agar pelaku industri dapat beradaptasi dan meningkatkan daya saing.

Industri mebel dan kerajinan Indonesia, yang selama ini dikenal berbasis bahan baku alam terbarukan dan keunggulan craftsmanship, juga menyimpan potensi strategis bagi ketahanan nasional. Bukan hanya sebagai penyumbang devisa ekspor, tetapi sebagai penyangga stabilitas sosial. Ketika industri di daerah bergerak, tekanan sosial mereda dengan sendirinya.

Memasuki 2026, optimisme perlahan menguat. Pergeseran peta perdagangan global membuka peluang baru, terutama di kawasan Timur Tengah. Proyek-proyek berskala raksasa seperti NEOM City, The Line, dan Red Sea Project di Arab Saudi, serta pengembangan properti dan hospitality di Uni Emirat Arab dan Qatar, menciptakan permintaan besar terhadap furnitur, interior, dan produk kayu bernilai tambah.

Leave a Comment