DEPOK (Pos Sore) — Kita mungkin pernah mendengar seseorang meninggal tanpa sebab, padahal sebelumnya orang tersebut dikabarkan dalam keadaan sehat. Banyak yang beranggapan kematian mendadak ini akibat serangan jantung.
Menurut dr. Jeffrey Wirianta SpJP, FIHA spesialis jantung intervensi RS Jantung Diagram, Cinere, Depok, menegaskan, meninggal mendadak akibat jantung (sudden cardiac death) atau henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) tidak sama artinya dengan serangan jantung (heart attack).
American Heart Association (AHA) mendefinisikan meninggal mendadak akibat jantung adalah kematian mendadak akibat jantung yang terjadi dalam 1 jam sejak awal gejala muncul.
“Definisi lain menyatakan, henti jantung yang disaksikan yang terjadi dalam 1 jam sejak gejala pertama muncul atau kematian mendadak pada pasien tanpa saksi, yang 24 jam sebelumnya diketahui dalam kondisi baik,” jelasnya, dalam media gathering di RS Jantung Diagram Cinere, Siloam Hospitals Group, Kamis (27/1)
Ia menjelaskan, henti jantung mendadak adalah masalah kelistrikan jantung yang membuatnya berhenti berdetak. Henti jantung mendadak dapat menyebabkan kematian karena jantung tidak bisa memompa darah dan menimbulkan hilangnya kesadaran.
Henti jantung mendadak kadang-kadang didahului oleh beberapa gejala seperti pingsan, pandangan gelap, pusing, nyeri dada, sesak napas, lemas dan muntah. Namun, bisa juga terjadi tanpa ada gejala awal. Saat terjadi henti jantung mendadak, tanda yang paling nyata adalah hilangnya denyutan nadi.
“Beberapa tindakan bantuan yang bila segera dilakukan, bisa mengembalikan kondisi henti jantung. Namun, bila tidak, maka hampir pasti pasien akan segera meninggal. Akibat aliran darah ke otak tidak mencukupi, korban akan segera kehilangan kesadaran dan berhenti bernapas.
Penelitian menemukan bahwa 80 persen kasus henti jantung mendadak disebabkan masalah jantung koroner. Sekitar 10-15 persen disebabkan kemampuan memompa jantung atau gagal jantung (baik dengan atau tidak ada hubungannya dengan koroner). Sisanya adalah karena penyakit jantung bawaan.
“Pengalaman dengan serangan jantung dapat membuat bagian otot jantung yang rusak bekerja. Bila seseorang pernah mengalami serangan jantung, kemungkinan kena sudden arrest bisa empat kali lipat. Lalu bila kemampuan pompa jantung seseorang sudah turun 50 persen, maka risiko sudden arrest tinggi,” tambahnya.
Para ahli mengatakan 10 menit adalah waktu yang optimal untuk menolong seseorang dengan henti jantung mendadak agar dapat tertolong.
“Empat menit adalah waktu minimal agar pasien dapat tertolong dengan kesempatan selamat 50 persen. Para ahli lainnya bahkan menghitung sempatan untuk selamat menurun 70 persen tiap menitnya,” tambahnya.
Menurutnya, kondisi ini sering terjadi tanpa ada saksi sehingga sulit mengharapkan bantuan, apalagi bila terjadi di rumah. Bahkan pada emergency system terbaik pun, kejadian survival sangat kecil, sehingga sangat jarang korban dapat diselamatkan.
Pencegahan henti jantung mendadak mencakup pengaturan pengaturan pola makan sehat, olahraga teratur, stop merokok, pengaturan tekanan darah, pengaturan kadar kolesterol darah, pengaturan kadar gula darah, penggunaan obat-obat jantung secara teratur, dan bila perlu penggunaan alat implantable cardioverter defibrillator/ICD. (tety)
