20.3 C
New York
20/07/2024
Aktual

Menggalang Gotong Royong di Pemukiman Padat

Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Pepatah lama ini barangkali cocok untuk menggambarkan Posdaya Kusuma Jaya di RW VI Kelurahan Muktiharjo Kidul Kecamatan Pedurungan Semarang, Jawa Tengah. Aneka ragam program perberdayaan keluarga tercipta di kelurahan yang padat penduduk terletak di Semarang Kota bagian utara ini. Mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, hingga bidang lingkungan hidup. Semua kegiatan berjalan dinamis dan diikuti sebagian besar warganya. Terkadang karena saking semangatnya, warga bisa menjalankan dua atau tiga kegiatan sekaligus.    

SEBUT  saja untuk kegiatan Pos PAUD Ceria (pendidikan anak usia dini). Sambil mengantar anaknya (atau cucu), ibu-ibu (dan eyang-eyang) disibukkan oleh pelatihan membatik dan membuat hiasan.  “Sambil menunggu anaknya sekolah, ibu ibu bisa mengisi waktunya dengan membatik dan membuat hiasan. Produk yang dihasilkan nanti kami pasarkan pada tempat-tempat yang membutuhkan di bawah pendampingan mahasiswa dan dosen IKIP PGRI Semarang,” kata Edy Widiyono, Ketua RW VI Muktiharjo yang juga merupakan tokoh masyarakat setempat.

Ada hal yang menarik dalam kegiatan PAUD ini , yaitu bertemunya tiga generasi: generasi muda (anak-anak), generasi tua (orangtua) dan  Lansia, serta menumbuhkan sikap kegotongroyongan.  Hal sederhana ini sesuai dengan Inpres no 3 / 2010 tentang Pembangunan Berkeadilan.

Sebagaimana sering didengungkan Ketua Yayasan Damandiri Prof Dr Haryono Suyono, bahwa  program sederhana membawa manfaat dan dapat diikuti oleh banyak warga. Program-program pelatihan ketrampilan untuk keluarga agar makin mampu menggalang kerja sama sesama keluarga dari kampung akan menjadi acuan yang mengena.

Pendidikan, Usaha dan Kesehatan

Keluarga muda bisa mengadakan kerja sama pengelolaan suatu usaha dengan modal gotong royong dan pengerjaan yang juga dilakukan bersama. Kegotong royongan dalam upaya bersama itu harus diikuti dengan mendorong anak-anak, utamanya anak balita dan anak-anak perempuan untuk ikut belajar sejak dini. Karena itu setiap Posdaya harus segera diikuti dengan pendirian tempat untuk PAUD yang menampung semua anak balita di dalamnya.

Perhatian harus diberikan kepada anak-anak balita dari keluarga kurang mampu agar mereka pun dapat menikmati PAUD tersebut dan tidak merasa rendah diri karena tidak bisa berpartisipasi dalam pendidikan .

Secara tidak langsung program PAUD Ceria ini telah mencerminkan apa yang diinginkan Prof Haryono tentang keluarga sejahtera dan menumbuhkan sikap gotong royong.

Selain  PAUD, Posdaya Kusuma Jaya di bidang pendidikan juga membentuk RA Karakter (Raudhatul Athfal/TK Agama), Rumah Pintar (Rumpin) Kaloka, Bimbingan Belajar (untuk anak-anak tingkat sekolah dasar dan menengah), TPQ (Taman Pendidikan Qulran), pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak serta pelatihan kewirausahaan ibu ibu.

Di bidang Ekonomi, kegiatan yang sudah dijalankan batik membatik, pembuatan tas souvenir, kerajinan akrilik meliputi taplak meja dan hiasan tutup gelas, pembuatan telur asin, dan krupuk bawang.Pada pembuatan tas souvenir termasuk cukup menonjol karena melibatkan banyak orang dan menguntungkan di bidang ekonomi.

Kegiatan yang awalnya merupakan usaha keluarga ini, mendapatkan suntikan dana dari Bank Jateng yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri sebesar Rp 2 juta. Dalam waktu singkat, usaha ini berkembang pesat dan berhasil menembus sejumlah intansi pemerintah dan sekolah / perguruan tinggi di Semarang. Di bawah pendampingan tim KKN IKIP PGRI, kini usaha yang dirintis Ny Istikanah ini sudah punya brand “Naila Bag”.

Di bidang Kesehatan Posdaya yang diikuti semua warga RW VI Muktiharjo ini telah membentuk BKB (Bina Keluarga Balita) Mutiara, BKL (Bina Keluarga Mutiara) Mekar Sehat, BKR (Bina Keluarga Remaja) RW VI, dan Posyandu Bina Sehat. Untuk  bidang lingkungan hidup program-program kegiatan yang sudah terlaksana meliputi PHBS (perilaku hidup bersih sehat), pengelolaan sampah (kompos), tanaman toga dan warung hidup.

Posdaya ini kini juga sedang membangun gedung serbaguna yang sempat dikunjungi Ketua Yayasan Damandiri Haryono Suyono dan Rektor IKIP PGRI Dr Muhdi SH MHum.

Andil para Tokoh

Tentunya, Posdaya Kusuma Jaya yang dibentuk 3 Oktober 2011 tak begitu saja meraih sukses. Ada sejumlah tokoh yang berada di balik suksesnya Posdaya penerima Damandiri Award 2014 ini, yaitu Edy Widiyono, Rektor IKIP PGRI Dr Muhdi SH Mhum, dan Camat Pedurungan, Wijaya Trikoranto.Drs Edy Widiyono, misalnya. Ketua RW yang juga staf pengajar di SMP Negeri XIII Sampangan Semarang ini didampingi istri tercinta Dra Puryani,  berhasil menggerakan warganya untuk aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan, khususnya di bidang pemberdayaan keluarga dalam rangka pencapaian target pembangunan milenium (MDGs) 2015.Rektor IKIP PGRI Dr Muhdi, SH, MHum, komitmennya dalam mendukung program pemberdayaan keluarga tak diragukan. Program pengabdian masyarakat yang digulirkan perguruan tingginya, sejalan dengan Posdaya.  Di bawah kepemimpinannya, KKN Tematik mahasiswa IKIP PGRI sudah berhasil membentuk 280 Posdaya yang tersebar di Semarang,Demak, Grobogan, dan Kendal.  (NB/Hari/Gemari) 

 

Leave a Comment