08/05/2026
Aktual

“Mengapa Perjuangan Saat Ini Seperti Melawan Bangsa Sendiri?”

JAKARTA (Pos Sore) — Hari Kebangkitan Nasional telah diperingati setiap tahun. Namun, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, menilai bangsa dan negara Indonesia belum juga bangkit sebagai bangsa yang besar.

“Indonesia belum bisa bangkit untuk memiliki perekonomian yang kuat dan mandiri, bangkit untuk menguasai dan memimpin perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan bangkit sebagai bangsa yang memiliki kepribadian yang kuat di mata bangsa dan negara lain,” tegasnya saat memimpin peringatan peringatan Hari Kebanglitan Nasional (Harkitnas) ke 107 tahun 2015, di Lapangan Pancasila, Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (20/5).

Lalu Puan kilas balik ke masa lalu. Pada 1949, di dalam pidato memperingati Hari Ulang Tahun Proklamasi Republik Indonesia, Ir Soekarno Presiden Pertama Republik Indonesia, telah mengingatkan bangsa Indonesia bahwa ‘Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri’.

Apa yang telah diingatkan oleh Soekarno saat itu, menurut Puan, mulai dapat dirasakan saat ini. Mengapa perjuangan saat ini seperti melawan bangsa sendiri?

“Saat ini bangsa Indonesia menghadapi berbagai kesenjangan, kesenjangan kepentingan, kesenjangan pendidikan, kesenjangan ekonomi, kesenjangan sosial, dan kesenjangan pembangunan,” lanjutnya.

Semua bentuk kesenjangan ini telah menciptakan pengelompokan masyarakat berdasarkan pada zona nyamannya masing-masing dan mempertahankan kepentingannya masing-masing.

Selain itu, semakin tergerusnya semangat kebersamaan dalam gotong royong. Gotong Royong hanya dimaknai dan diberi ruang pada saat kegiatan bakti sosial. Gotong royong dalam perekonomian, dalam politik, dalam pembangunan semakin hilang dalam pusaran ekonomi pasar bebas, liberalisasi politik, dan pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi semata.

“Karena itu, pada setiap peringatan Hari Kebangkitan Nasional, Indonesia sebagai bangsa dan negara hendaknya mawas diri. Apakah jalan dan arah yang dituju oleh bangsa dan negara kita ini, telah menuju kepada tujuan bernegara yang sebenarnya?” tanya Puan.

Menurut Puan, Hari kebangkitan Nasional merupakan peristiwa sejarah yang terus menginspirasi perjalanan bangsa ke depan. Untuk menyadari pentingnya kesadaran bersama sebagai bangsa dan negara dalam mewujudkan tujuan bernegara, bangsa Indonesia harus memliki semangat perjuangan, semangat perubahan, semangat revolusi untuk dapat menjadi bangsa dan negara yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian gotong royong.

“Semangat revolusi yang dimaksudkan adalah semangat untuk menjebol dan membangun. Menjebol segala tantangan yang menghambat kemajuan sebuah bangsa dan membangun peradaban yang lebih baik,” katanya.

Menurut Puan, perlu dipikirkan bagaimana bangsa Indoneia mengimplementasikan semangat revolusioner tersebut? Apa tantangan yang dihadapi dalam membangun kemajuan bangsa dan negara Indonesia. Apa tantangan yang harus dijebol dan dobrak untuk mempercepat kemajuan bangsa dan negara Indonesia? Apa peradaban yang hendak dibangun?

“Bagaimana kita hendak membangun bangsa dan negara Indonesia ke depannya, perlu dirancang kembali dari sekarang?” Kata Puan.

Saat ini dirasakan, berbagai perubahan dan perombakan yang terjadi baru bersifat institusional, belum menyentuh paradigma, mindset, atau budaya politik dalam rangka pembangunan bangsa. Sejumlah tradisi atau budaya tumbuh subur dan masih berlangsung sampai sekarang, mulai dari korupsi, intoleransi terhadap perbedaan, dan sifat kerakusan, sampai sifat ingin menang sendiri, kecenderungan menggunakan kekerasan dalam memecahkan masalah, pelecehan hukum, dan sifat oportunis.

Di lapangan kebudayaan, merebak penyakit individualisme, nihilisme dan sinisme yang membunuh kepribadian nasional bangsa Indonesia yang berdasarkan kolektivisme dan gotong-royong.

“Inilah tantangan yang dihadapi bangsa dan negara Indonesia. Bila masalah-masalah pokok tersebut dibiarkan maka akan muncul peluruhan karakter bangsa yang bermuara kepada terjadinya desintegrasi bangsa yang akan mengoyak persatuan nasional dan mengancam eksistensi NKRI,” tegasnya. (tety)

Leave a Comment