POSSORE.ID, Wuhan China — Di tengah hiruk-pikuk kota Wuhan yang futuristik, gelombang pemikiran segar tentang masa depan pendidikan mengalir deras dalam The 4th International Symposium on Inclusive Education Development. Di antara 300 akademisi, praktisi, dan pemikir pendidikan dari berbagai penjuru dunia yang memadati Central China Normal University (CCNU) akhir Juni silam, terselip sebuah suara khas dari Indonesia: Dr. Karta Sasmita.
Sebagai Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Karta bukan sekadar hadir. Ia terpilih menjadi pembicara kunci dalam simposium bertema Reimagining Teaching Materials and Empowering Children’s Subjectivity in the Age of AI itu, membawa gagasan transformatif yang lahir dari tantangan dan harapan tanah air.
Karta Sasmita memancarkan sinarnya dalam dua momen strategis: Parallel Forum III (24 Juni): Bersama pakar dari Rusia dan Tiongkok, ia mengupas tuntas topik Empowering Children’s Subjectivity through Artificial Intelligence. Di sini, Karta memaparkan strategi pemanfaatan AI bukan sebagai pengganti, melainkan alat ampuh untuk memperkuat agensi anak dalam belajar.
Guest Lecture (26 Juni): Dalam sesi bertajuk Inclusive Education Practices and Experience Across Countries, ia berdialog sejajar dengan pembicara dari Spanyol, Singapura, dan Rusia. Di sinilah konsep inklusi ala Indonesia ditampilkan dalam warna yang unik dan membumi.
Tantangan Lokal Solusi Global
Lewat presentasi bertajuk Integrating Deep Learning and AI for Empowering Children’s Subjectivity in Inclusive Education: Addressing Challenges and Opportunities in Indonesia, Karta berani mengurai kompleksitas pendidikan nasional. Rendahnya kemampuan berpikir kritis (HOTS), kesenjangan teknologi, dan krisis pembelajaran menjadi titik berangkatnya.
Namun, ia tak hanya mengkritik. Karta menawarkan jalan keluar berbasis deep learning yang memadukan kecerdasan buatan secara cerdas dan manusiawi. Visinya jelas: menciptakan pengalaman belajar yang mindful (penuh kesadaran), meaningful (penuh makna), dan joyful (menyenangkan).
Teknologi, tegasnya, harus tunduk pada prinsip inklusivitas, kolaborasi, dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi jantung pendidikan sejati. Salah satu sumbangan pemikiran Karta yang paling memikat adalah perspektifnya tentang pendidikan masyarakat (community education) sebagai bentuk inklusi terselubung.
“Konsep inklusi kerap disempitkan hanya pada penyandang disabilitas di kelas reguler,” katanya dalam percakapan dengan POSSORE.ID. Padahal, katanya, di ruang-ruang belajar pendidikan masyarakat Indonesia, inklusi hidup dalam maknanya yang paling organik dan luas.
Bayangkan satu kelas yang diisi bersama oleh remaja 17 tahun hingga orang dewasa 45 tahun; dari latar belakang ekonomi, sosial, dan budaya yang beragam. “Pendidikan masyarakat memang untuk semua. Karena sifatnya yang sangat terbuka inilah, ia bahkan tak perlu mengklaim diri sebagai ‘pendidikan inklusi,” papar Karta, menyoroti praktik inklusif alami yang telah lama berjalan di akar rumput.
Partisipasi Karta Sasmita di Wuhan bukan sekadar prestasi personal. Ia adalah jembatan bagi UNJ dan pendidikan Indonesia untuk menguatkan jejaring global. Kunjungan lapangan ke sekolah inklusif di Wuhan dan interaksi intensif dengan peserta dari berbagai negara – termasuk Singapura, Rusia, Spanyol, Inggris, Portugal, dan tentu saja Tiongkok – membuka peluang kolaborasi riset dan program konkret di masa depan.
Kehadirannya di simposium bergengsi yang juga dihadiri perwakilan UNESCO dan Kementerian Pendidikan Tiongkok ini adalah bukti nyata: pemikiran kritis dari akademisi Indonesia mampu bersaing dan memberi warna penting dalam peta pendidikan inklusif global. Di tengah gempuran revolusi AI, suara dari Jakarta ini mengingatkan dunia bahwa teknologi paling canggih pun harus berpangkal pada prinsip inklusivitas yang membumi dan berpihak pada manusia. (aryodewo)
