11.2 C
New York
14/04/2024
Opini

MEMBANGUN GERAKAN PRAMUKA BERBASIS TERITORIAL

Oleh Prof. Dr. Haryono Suyono

MENYONGSONG perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI biasanya Gerakan Pramuka mengadakan apel sekitar tanggal 14 Agustus dengan Inspektur Upacara Presiden RI selaku Pembina Gerakan Pramuka. Upacara tahun ini adalah upacara terakhir bagi Presiden SBY karena tahun depan akan dipimpin secara resmi oleh Presiden yang baru. Oleh karena itu ada baiknya, utamanya dengan Ka Kwarnas Gerakan Pramuka yang baru, Kakak Adhyaksa Dault, dicanangkan peningkatan kualitas Gerakan Pramuka berbasis sekolah sekaligus disegarkan kembali Gerakan Pramuka berbasis Teritorial atau Wilayah.

Peningkatan mutu dan penyegaran Gerakan Pramuka merupakan suatu keharusan karena selama kampanye pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, semua calon menyatakan perlunya peningkatan karakter anak bangsa untuk menghadapi persaingan yang sangat ketat dalam kancah dunia yang makin terbuka. Gerakan Pramuka di semua lapisan bisa menjadi forum pendidikan karakter anak bangsa yang sangat ampuh. Gerakan Pramuka mengajarkan anak didik mengikuti proses pendidikan karakter dengan cara gembira sambil bermain, bermain sesama teman sebaya di bawah bimbingan kakak-kakaknya.

Tanpa terasa, melalui pelatihan dengan sistem permainan dalam kelompok-kelompok kecil, setiap anak didik berlatih saling peduli menciptakan kekompakan kelompoknya dalam tatanan gotong royong, saling peduli dan saling mengayomi, saling bantu membantu tanpa ada rasa menang sendiri. Dalam permainan itu terbuka kesempatan yang sama bagi setiap anak bisa menjadi pemimpin regunya, atau menjadi anggota regunya yang dinamik. Dengan demikian, setiap anak didik bisa merasa, mengalami dan mengembangkan dirinya menjadi insan yang berkarakter melalui pengalaman langsung, belajar menjadi anak yang makin dewasa dan bertanggung jawab.

Melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, keikut-sertaan dalam gerakan Pramuka bagi anak didik di sekolah-sekolah dijadikan wajib. Oleh karena itu pendalaman falsafah melalui pelatihan dalam gerakan Pramuka di sekolah perlu ditingkatkan agar keikut-sertaan dalam gerakan ini bukan hanya dijadikan salah satu mata pelajaran di kelas, tetapi dipraktekkan langsung untuk menghasilkan tingkah laku yang dicita-citakan oleh Bapak Pandu sedunia, Lord Baden Powell dan sejak lama dipraktekkan oleh Gerakan Pramuka di Indonesia.

Anak-anak didik dilatih dalam kegiatan praktek, setiap hari minimal sekali berbuat baik sesama teman-temannya, kepada dan bersama generasi yang lebih tua, atau kepada keluarga atau orang lain yang berada dalam keadaan disabilitas. Praktek-praktek berbuat baik itu merupakan awal dari pendidikan budi pekerti yang akan terakumulasi dalam karakter bangsa yang dimulai dari kebiasaan berbuat baik secara kecil-kecilan berupa kebaikan sesama rekan-rekannya.

Kebiasaan berpikir positif dan berbuat kebaikan, biarpun kecil-kecilan, akan terakumulasi dan menghasilkan suatu kumpulan yang sangat membekas dalam sanubari yang sangat dalam. Lebih-lebih apabila dilakukan sejak dini, mencintai alam sekitar, makhluk sekitar, hewan satwa sekitar, dan sayang kepada siapa saja yang kiranya membangun keserasian lingkungan dalam arti luas, sebagai bagian dari hidup yang sejuk dan dinamis.

Sayangnya karena kebiasaan itu ditumbuhkan hanya dalam lingkungan sekolah, lebih-lebih kalau kemudian diperlakukan seperti kurikulum biasa, yang hasilnya dinilai untuk kenaikan kelas semata, atau kelulusan dari suatu tingkatan ke tingkat lainnya, kesempatan menjadi bagian dari pengembangan budaya dan karakter anak bangsa, akan sia-sia atau maksimal terbatas. Oleh karena itu, menurut ajaran Ki Hajar Dewantara, sekolah adalah bagian dari orang tua dan masyarakat luas, semua proses perlu dikembangkan dengan menempatkan orang tua dan masyarakat sebagai basis yang penting dalam pengembangan karakter anak bangsa melalui Gerakan Pramuka.

Kalau gerakan Pramuka hanya diberikan sebagai bagian dari kurikulum di sekolah, dengan sendirinya anak didik akan “memakai” seragam Pramuka dan mempraktekkan kaidah-kaidah kepramukaan selama anak didik itu di sekolah. Keluar dari sekolah, anak didik secara tidak langsung akan “melepas” seragam dan kaidah-kaidah yang dipelajarinya. Padahal, kalau disemai dan dilanjutkan dalam lingkungan orang tua dan masyarakatnya, kebiasaan itu akan menyuburkan pengembangan budaya dan karakter kepanduan yang luhur.

Lebih lebih lagi di tingkat pedesaan, dewasa ini hampir pasti banyak anak-anak yang tidak sempat sekolah, atau putus sekolah, atau tidak meneruskan ke tingkat pendidikan sekolah menengah atas. Karena tidak pernah sekolah, atau putus sekolah, dengan sendirinya upaya pendidikan dan praktek-praktek pengembangan karakter luhur itu tidak tuntas. Apalagi kalau karena “kecelakaan” itu, kepadanya diberi label putus sekolah dan dianggap bukan lagi rekan sejawat, karena tidak melanjutkan sekolah, maka si anak akan lepas dari pertemanan. Tumbuh perasaan “dibuang” atau setidak tidaknya dianggap “deviant”, dikucilkan. Persahabatan antar anak sekolah dan anak putus sekolah akan menghasilkan retaknya persatuan dan kesatuan antar anak bangsa.

Oleh karena itu, anak didik yang sudah menjadi anggota Pramuka berbasis sekolah dapat menjadi embryo dari gerakan Pramuka berbasis kampung dan desanya, sehingga dapat menjadi sahabat sesama anggota Pramuka dengan anak muda yang kurang beruntung. Pada hari-hari Sabtu dan Minggu, di kampung masing-masing, semua anak bersatu melanjutkan kegiatan membangun budaya dan karakter unggul sesama sebayanya. Mereka belajar mengenal, mencintai dan berbagi dengan rekan, orang tua dan lingkungan kampung halamannya.

Bersama rekan sekampungnya, melalui gerakan Pramuka, anak-anak mencintai orang tua masing-masing dan mereka yang kebetulan tidak beruntung, seperti keluarga disabilitas atau miskin, sehingga seluruhnya akan merupakan bahan baku yang luar biasa untuk memantapkan pembangunan karakter bangsa. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Ketua Yayasan Damandiri /Ketua Umum HIPPRADA)

Leave a Comment