15.8 C
New York
04/05/2026
Aktual

Membangun Generasi Unggul Dimulai dari Sebelum Kehamilan

JAKARTA (Pos Sore) — Perkembangan kemampuan kognitif anak sangat dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang diperoleh anak tersebut. Gizi memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kecerdasan anak. Pemenuhan kebutuhan gizi pada masa golden period anak akan menentukan kecerdasan seorang anak di kemudian hari.

“Kecerdasan anak adalah sesuatu yang berjalan dinamis dan berkembang seiring berjalannya waktu. Ada masa keemasan dalam perkembangan kognitif anak untuk mencapai puncak tertinggi yaitu masa golden period,” tutur dr. Tirta Prawita Sari, M.Sc, Sp.GK, seorang akademisi yang juga Ketua Gerakan Masyarakat Sadar Gizi.

Ia menyampaikan hal terkait gizi dan kecerdasan anak saat menjadi narasumber diskusi online dengan tema “Membangun Generasi Unggul”, di Jakarta, Jumat (1/5/2020). Diskusi diadakan oleh Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi, Komunitas Literasi Gizi (KoaLizi), dan Departemen Kesehatan Badan Pengurus Pusat Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS).

Diskusi dalam rangka Hari Pendidikan Nasional itu menghadirkan pembicara Dra. Nunki Nilasari, Sc.Psi (psikolog), Ustadz Abul Hayyi Nur, S.Pd.I, S.Sos (Pimpinan Pesantren Syawarifiyyah Rorotan), dan diskusi dimoderatori oleh dr. Mahesa Paranadipa, MH. (praktisi kesehatan).

Dokter Tirta menekankan, perkembangan kemampuan kognitif anak,j tidak dimulai saat anak dilahirkan. Perkembangannya dimulai jauh sebelum anak lahir, sejak masa kehamilan ibu bahkan sebelum orangtuanya menikah. Setiap hambatan dan tantangan yang dihadapi pada masa itu, akan memberikan implikasi yang luar biasa baik bagi kecerdasan anak.

“Jadi jauh sebelum anak lahir sudah harus disiapkan, dibangun atau dibentuk. Seorang perempuan sebelum mengandung harus menyiapkan dirinya seoptimal mungkin, memastikan dirinya memiliki asupan gizi yang adekuat sehingga ketika memasuki masa kehamilan ia memiliki status gizi dan kesehatan yang baik,” tandasnya.

Ia melanjutkan, pencapaian status gizi yang baik ini diupayakan tidak hanya saat sang ibu mengandung, namun dilakukan jauh sebelumnya. Pembentukan organ tubuh janin dalam kandungan kebanyakan dimulai sejak usia kandungan 8 minggu. Pada kebanyakan kehamilan, ibu biasanya baru mengetahui setelah janin berumur 4 minggu.

“Jika perbaikan gizi baru dilakukan saat kehamilan diketahui, maka berpotensi terlambat. Buruknya pemenuhan kebutuhan gizi pada kehamilan akan berimplikasi pada kesejahteraan janin dalam kandungan. Janin akan tumbuh dalam keterbatasan zat gizi dan tentunya akan mempengaruhi pertumbuhannya. Ketidakterpenuhan ini bisa dilihat dari pertambahan berat badan ibu saat hamil yang tidak adekuat dan bayi yang dilahirkan dengan berat lahir rendah,” urainya.

Status gizi ibu utamanya status zat besi ibu harus dipersiapkan sejak dini. Pemberian suplementasi zat besi yang dilakukan sejak remaja sangat penting untuk menjamin cadangan zat besi saat ia hamil nantinya. Cadangan besi ibu ini akan dipakai untuk memenuhi kebutuhan semasa kehamilan, saat persalinan dan saat menyusui.

Cadangan besi ibu turut membentuk cadangan besi bayi. Cadangan besi bayi akan menjadi sumber pemenuhan kebutuhan zat besi bayi pada masa 6 bulan pertama. Jika cadangan ini tidak adekuat, maka ibu dan bayi akan berpotensi mengalami anemia defisiensi zat besi. Zat besi smmerupakan unsur penting yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kecerdasan anak. Kemampuan kognitif anak akan sangat dipengaruhi oleh ada atau tidaknya anemia.

Menurut dr. Tirta, periode terpenting perkembangan kemampuan kognitif anak adalah pada masa sebelum anak berusia 5 tahun. Pada masa ini puncak perkembangan terjadi, sehingga di masa ini segala bentuk intervensi yang dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan anak menjadi sangat efektif.

“Untuk berlajar, seorang anak tidak boleh kekurangan energi, tidak boleh anemia dan diharapkan memiliki status kesehatan yang optimal. Dukungan fisik dalam hal ini gizi bersama dengan stimulasi psikis menjadi bahan baku yang sangat penting,” tandasnya.

Dalam masa tersebut, terdapat masa perkembangan dengan plastisitas tertinggi, yaitu pada 1000 hari pertama kehidupan, yaitu pada 9 bulan kehamilan dan hingga dua tahun setelah ia dilahirkan. Tubuh anak memiliki kemampuan tertinggi dalam penyesuaian atas trigger apapun yang diberikan padanya, termasuk didalamnya asupan zat gizi.

“Masa ini adalah masa yang tepat untuk melakukan perbaikan apabila terjadi kekurangan asupan yang terjadi sebelumnya. Karena bila koreksi tak segera dilakukan pada masa ini, maka dampak pada kesehatan anak akan permanen. Sehingga masa 1000 hari pertama kehidupan ini dikenal pula dengan nama window of opportunity. Anak yang melewati masa ini dengan baik akan memiliki kualitas yang baik di masa depan,” jelasnya.


Sementara itu, Dra. Nunki Nilasari, Sc.,Psi yang juga ahli psikologi bawah sadar menyampaikan materi Tantangan dan Masalah Pembangunan Karakter. Ia menjelaskan bahaya karakter yang dapat merusak peradaban seperti meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Begitu juga dengan penggunaan bahasa dan kata-kata kotor, serta pengaruh peer group yang kuat yang mendorong untuk berbuat tindak kekerasan.

Hal lain yang perlu diperhatikan yaitu meningkatnya perilaku yang merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas. Semakin kaburnya pedoman baik dan buruk. Menurunnya etos kerja. Semakin rendahnya rasa hormat kepada kedua orang tua dan pendidik, rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara.

“Masalah dan tantangan pembangunan karakter yang dihadapi bangsa ini adalah adalah kurangnya teladan. Ketiadaan visi. Tidak adanya pewarisan nilai-nilai budaya yang baik. Kurang memberi penghargaan pada sikap dan kecenderungan memberi penghargaan pada materialisme,” tuturnya. (tety)

Leave a Comment