8.1 C
New York
22/04/2026
AktualEkonomiFood

Membaca Peluang, Strategi Cakmono Lejitkan Omsetnya di Tengah Pandemi

JAKARTA (Pos Sore) — Bagi Darmono, produsen e-sambelin Cak Mono — sambel khas Madura, pandemi Covid-19 menjadi berkah tersendiri. Usaha yang dirintisnya satu tahun terakhirnya justeru kian berkembang.

Alih-alih penjualan menyusut sebagaimana sempat dikhawatirkan karena daya beli masyarakat menurun, nyatanya usahanya laris manis. Tidak ada tanda-tanda kelesuan sebagaimana dialami pelaku UKM lainnya.

Apa resepnya hingga bisa tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19? Di saat banyak pelaku usaha bertumbangan terhempas oleh gelombang virus Corona, produk e-Sambelin ini malah semakin kokoh.

Adanya pembatasan aktivitas sosial yang mengubah cara berbelanja masyarakat yang semula konvensional menjadi online, menjadi peluang tersendiri untuk menggenjot penjualannya.

“Banyak konsumen yang mengandalkan jual beli secara online, ini menjadi kesempatan bagi produk e-Sambelin untuk digenjot penjualannya,” tutur Darmono, ASN Kementerian Koperasi dan UKM, sumringah.

Gaya hidup masyarakat jaman sekarang yang ingin serba praktis, dicoba disikapi e-Sambelin dengan berpromosi melalui media sosial instagram @esambelincakmono, yang dipadukan dengan produk ayam/bebek ungkep.

Alhasil berkat inovasi dan kreatifitas dalam membaca peluang, produk Esambelin Cak Mono meningkat. Kini omsetnya juga melonjak. Padahal di awal merintis usaha rumahan ini hanya bermodalkan Rp500 ribu.

“Di masa sulit ini, saya memilih untuk melakukan inovasi produk,” tegas Darmono kepada wartawan, Sabtu (14/11/2020).

Darmono bercerita, di awal-awal pandemi, usaha sambal dalam kemasan miliknya memang penjualannya sempat menurun. Hal itu karena sambel adalah produk kuliner tambahan atau pelengkap hidangan.

Kemudian Darmono mendapat ide untuk memadukan produk sambelnya dengan ayam/bebek ongkep yang menjadi lauk favorit bagi kebanyakan orang. Alhasil inovasi produknya cukup laris manis.

“Menurunnya daya beli membuat pergerakan ekonomi sepi. Namun saya berinovasi tanpa harus meninggalkan bisnis utama, sambel kemasan. Akhirnya, saya memutuskan untuk memproduksi ayam dan bebek ungkep siap saji, plus esambelin sebagai pendukungnya,” jelas Darmono.

Sebagai awal penjajakan pasar, Darmono mengirimkan produk ayam/bebek ungkepnya bersama sambal ke sahabat-sahabat terdekatnya sebagai tester rasa. Dari komentar para sahabat yang mencicipi produknya, Darmono terus belajar memperbaiki kualitas rasa dan packagingnya.

Dengan kemasan yang berbeda dari yang lain yaitu dengan dibuntel alumunium foil, rupanya produk ayam /bebek ungkepnya banyak disukai.

Tak lupa juga trik Darmono memperluas basis pasar produk kulinernya tersebut dengan memanfaatkan jejaringnya yang selama ini dibangunnya. Memanfaatkan tokoh-tokoh penting atau public figure yang dikenalnya seperti Andy F. Noya, Teten Masduki, Bintang Puspayoga dan lainnya.

Darmono meminta mereka mencicipi produknya kemudian difoto. Dari foto tersebut kemudian diunggah ke media sosial instagram @esambelincakmono sebagai upaya branding.

“Dari tester itu, saya menjadi tahu apa yang kurang, dan apa yang enak buat konsumen. Jadi, intinya, dalam inovasi produk itu kita harus berani dalam tester rasa konsumen,” tegas Darmono lagi.

Darmono menyadari kemasan produk yang baik menjadi daya tarik utama konsumen dalam memutuskan membeli atau tidaknya. Setelah itu dirinya komitmen untuk tetap menjaga rasa, aroma dan kualitas produk. Meski sudah mulai banyak pesanan, Darmono tidak pernah mengurangi kualitas produknya demi menjaga trust konsumen.

“Jangan lupa juga terus memanfaatkan media sosial sebagai wadah promosi dan pemasaran. Alhamdulillah, usaha saya kembali berjalan normal bahkan terus meningkat,” pungkas Darmono. (tety)

Leave a Comment