19.3 C
New York
24/05/2024
Aktual

McDonald’s di Abu Dhabi Diguncang Isu Babi

ABU DHABI — Pemerintah Abu Dhabi, Uni Emirat Arab meminta masyarakat untuk tidak menyebarluaskan gosip tentang isu keamanan makanan di jejaring media sosial. Imbauan ini dilontarkan pemerintah setelah beredar desas-desus bahwa produk makanan jaringan restoran nomor satu dunia, McDonald’s mengandung daging babi.

Pemerintah mengimbau para pengguna jejaring sosial untuk mewaspadai rumor berselubung peringatan keamanan makanan sebelum menyebarluaskan kepada orang lain.  “Ketika Anda menemukan isu peringatan keamanan makanan seperti itu, tolong dicek ulang keasliannya dengan akun media sosial resmi dari badan otoritas keamanan makanan seperti Badan Pengendali Makanan Abu Dhabi atau Adfca,” ujar Mohammad Jalal Al Raisi, Direktur Layanan Komunikasi dan Masyarakat Adfca kepada Gulf News kemarin.  “Peringatan keamanan makanan dikeluarkan oleh lembaga berwenang dan bukan individu,” tegasnya.

Beberapa warga ikut membantu Adfca menangkal desas-desus yang menyebutkan produk makanan McDonald’s yang dijual di Abu Dhabi mengandung bahan daging babi.  “Kami menerima berbagai pertanyaan dari call centre pemerintah Abu Dhabi pekan lalu. Hasil investigasi awal menunjukkan bahwa itu adalah desas-desus yang berasal dari media sosial. Namun begitu, para petugas kami membawa beberapa sampel produk McDonald’s untuk uji laboratorium,” jelasnya. 

Hasil pemeriksaan dan tes laboratorium membuktikan bahwa tak satu pun produk “nonhalal”   dijual di pasaran Abu Dhabi.  Desas-desus itu menyitir beberapa lembaga Islam di luar negeri yang menyebutkan bahwa produk McDonald’s di Abu Dhabi, terutama mayonaise dan bumbu-bumbu, mengandung bahan daging babi karena berasal dari resto McDonald’s di Amerika.  Untuk menangkal isu itu, Adfca mengkonfirmasikan bahwa produk makanan yang disajikan di seluruh outlet McDonald’s di Abu Dhabi berasal dari Mesir.  Lagipula UEA menerapkan prosedur yang ketat untuk memastikan seluruh makanan yang diimpor ke negara itu haruslah produk yang halal. 

“Tidak ada jalan bagi makanan nonhalal masuk ke UEA,” tegas Al Raisi.  Ia juga memuji para warga yang melaporkan rumor itu ke pihak berwenang dan menyebutnya sebagai contoh baik yang patut ditiru. 

“Jangan menyebarluaskan peringatan keamanan makanan di media sosial, sekalipun itu berasal dari orang yang Anda kenal. Anda dapat menyebarkannya bila menemukan pesan yang sama pada akun media sosial resmi dari lembaga pengatur keamanan makanan. Cara lain adalah dengan melaporkannya pada kami, ketimbang menyebarkan pada orang lain,” imbuh Al Raisi.

Kadangkala desas-desus itu juga menyitir pemerintah untuk mengklaim keasliannya.  Al Raisi menyebut rumor yang disebarkan pada Oktober 2010 melalui Blackberry Messenger, yang mengutip Adfca dan WAM (kantor berita emirat). Isu itu menyebutkan minuman ringan 7Up dilarang beredar di UEA karena mengandung bahan beracun. Pemerintah langsung meminta masyarakat untuk berhati-hati. 

Pada Juni 2013, Adfca juga menangkis rumor yang mengutip pernyataan seorang dokter di sebuah rumah sakit terkenal di Arab Saudi yang menyebutkan buah semangka yang diimpor ke Abu Dhabi dari sebuah negara Arab telah disuntik dengan virus HIV, penyebab AIDS.(gulfnews/meidia)

 

 

Leave a Comment