JAKARTA (Pos Sore) – Manusia Ide. Ya, tokoh perbankan Indonesia yang dikenal dunia, Dr. Mochtar Riady dijuluki Manusia Ide. Apa saja ide-ide briliannya semua tertuang dalam buku otobiografi berjudul ‘Manusia Ide’.
Dalam buku 336 hal tersebut, pria kelahiran Batu, Malang, ini bercerita bagaimana perjuangannya selama 87 tahun dalam mencapai sukses. Menapak tilas perjalanan hidup dan karier pendiri Lippo Group ini.
Mochtar membuat dan menyusun sendiri isi bukunya di sela sela waktu kosong. Awalnya ia tidak pernah berniat untuk membuat otobiografi. ‘Manusia Ide’ itu sendiri bukan kemauannya, melainkan bantuan dari penerbit.
“Sebenarnya saya tidak ada niat untuk membuat otobiografi. Saya bahkan pernah bicara dengan beberapa teman saya, kalau mau membuat biografi saya, tunggu saya tidak ada lagi di dunia ini. Jangan sekarang,” papar konlomerat ternama itu, di sela peluncuran buku tersebut, di Jakarta.
Ternyata, seiring waktu, ada hal yang menggerakkannya. Pada saat itu, ia melakukan perjalanan ke luar negeri selama 14 hari bersama seorang sahabatnya. Kepada sahabatnya itu, Mochtar berbagi cerita mengenai perjalanan hidupnya.
“Selang 24 hari, ternyata datang kiriman berupa tulisan sebanya 200an lembar. Saya diminta untuk koreksi. Saya tidak mampu untuk mengoreksi, jadi saya tulis saja,” ujar bankir ‘bertangan emas’ ini.
Di buku itu, Mochtar membagi bagian dari hidupnya dalam 5 fase. Satu fase terdiri dari 20 tahun perjalanan hidupnya. Fase pertama, fase 20 tahun pertama hidupnya. Episode hidup yang dinilainya cukup berat untuk dihadapi.
Masa kecil dilalui Mochtar dengan menghadapi empat masa peperangan. Termasuk pada saat ia turut berjuang dalam membela kemerdekaan Indonesia di usianya yang masih belia. Namun di sinilah mimpi membangun hidupnya berawal.
Fase kedua adalah episode 20 tahun kedua hidupnya. merintis karier dan rumah tangga. Ia mulai belajar dari nol untuk mewujudkan impian masa kecilnya menjadi bankir.
Lalu fase ketiga adalah 20 tahun ketiga perjalanan hidupnya. Ia mulai mendapat kepercayaan membangun dan membesarkan berbagai bank, di antaranya Panin Bank dan BCA yang sudah memiliki nama hingga saat ini.
“Setelah itu, saya keluar dari bankir dan mendirikan Lippo Group hanya bermodalkan ide. Ide modal utama bagi saya. Orang miskin itu bukanlah orang yang tidak punya uang, tapi orang yang tidak punya ide. Namun ide tersebut tentunya harus dijalankan. Tidak disimpan,” ujar Komisaris Utama Group Lippo ini.
Fase 20 tahun berikutnya adalah fase keempat. Mochtar mendidik anak-anaknya dengan pengalamannya agar berkontribusi untuk Indonesia. Fase kelima, episode hidupnya saat ini. Yang pengabdiannya kepada negara lebih difokuskan kepada bidang pendidikan dan kesehatan.
Ia juga menceritakan beberapa kisah menantang dalam hidupnya yang inspiratif. Buku ini juga banyak memuat mengenai filosofi hidup Mochtar seperti ‘menangkap kuda dengan menunggang kuda’.
“Saya berharap, buku otobiografi saya ini dirinya memberikan inspirasi dan manfaat terutama bagi generasi keluarga saya, anak cucu saya, dan masyarakat umumnya,” ujar suamio dari Suryawati Lidya ini.
Lebih dari itu, sosok Mochtar juga dikenal sebagai pribadi yang peduli terhadap perekonomian Indonesia. Ia juga menghimbau para generasi muda agar tidak pantang menyerah dalam melaksanakan dan mengembangkan idenya.
Karena kepeduliannya itu, ia juga menuliskan beberapa pemikiran demi memajukan kondisi perekonomian Indonesia tentang tantangan bangsa serta perekonomian nasional sebagai bentuk sumbangsihnya terhadap Indonesia. (tety)

