10 C
New York
19/04/2026
AktualPendidikan

Mahasiswa IAN Bekasi Harus Jadi Agen Perubahan dan Pembangun Peradaban Islam

POSSORE.ID, Bekasi — Hujan deras disertai kilatan petir mengguyur halaman kampus Institut Attaqwa KH. Noer Alie (IAN) Bekasi pada Selasa (9/9) siang itu. Namun, suasana di dalam Aula Gedung A tetap hangat dan penuh semangat. Ratusan mahasiswa baru duduk rapi, menyimak setiap kalimat yang keluar dari sosok ulama kharismatik, Dr. KH. Masykur Hakim, MA, yang hadir sebagai pembicara dalam Stadium Generale pembuka semester ganjil tahun akademik 2025/2026.

Jelang dimulainya acara Stadium Generale di Aula Gedung A Kampus Institut Attaqwa KH Noer Alie, Bekasi, Selasa (9/9).

Dengan suara tenang namun penuh penekanan, Masykur Hakim mengingatkan para mahasiswa tentang peran besar yang mereka emban. Tema kuliah umum kali ini, Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan dan Pembangun Peradaban Islam”, bukan sekadar jargon, melainkan panggilan zaman bagi generasi muda kampus berbasis pesantren ini—salah satu dari 51 kampus serupa yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Mahasiswa era 80-an dan sekarang sudah berbeda,” ujarnya membuka refleksi. “Dulu ada Dewan Mahasiswa, sekarang BEM. Tapi intinya tetap sama: hidup adalah perubahan. Mahasiswa harus terus bergerak. Cita-cita harus setinggi mungkin. Berpikirlah besar, karena dengan berpikir besar, maka akan berbuat besar, dan hasilnya pun akan besar pula,” tegas Masykur Hakim disambut tepuk tangan mahasiswa.

Para mahasiswa menyimak dengan seksama materi yang disampaikan Dr. Msykur Hakim, MA pada acara Stadium Generale

Ia menekankan, mahasiswa tidak boleh terjebak dalam zona nyaman. Membaca, berdiskusi, dan mengakses pengetahuan harus menjadi kebiasaan. Menurutnya, mahasiswa adalah intelektual penerus bangsa yang bertugas menyebarkan pengetahuan Islam sekaligus menciptakan metode pembelajaran kreatif dan efektif.

Lebih jauh, Masykur Hakim memaparkan peran strategis mahasiswa dalam kehidupan berbangsa dan beragama. Mereka bukan hanya perintis perubahan, tetapi juga pelaku aktif yang harus tetap mendorong perbaikan di berbagai aspek: ekonomi, sosial, budaya, hingga lingkungan. Mahasiswa, katanya, juga adalah penyuara aspirasi masyarakat, yang dengan idealismenya dapat memberikan solusi untuk mendukung pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

Ia menyebut peran lain yang tak kalah penting: agen pembangunan karakter. Di tangan mahasiswa, ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) harus terhubung dengan nilai-nilai Islam. Keduanya perlu diramu agar mampu menjawab tantangan zaman modern, menciptakan kesejahteraan material tanpa kehilangan pijakan spiritual.

“Dengan ilmu dan akhlak, mahasiswa muslim dapat menciptakan individu yang sejahtera. Dampaknya akan meluas ke masyarakat dan menghidupkan kembali kejayaan peradaban Islam di era modern,” tutur Masykur Hakim. Ia bahkan mendorong aksi nyata, seperti gerakan literasi, mendirikan taman bacaan, atau kegiatan dakwah yang memperkuat toleransi antarumat beragama dan kohesi sosial.

Sebelum sesi ceramah utama, Rektor IAN Bekasi, Dr. Saiful Bahri Maih, M.Pd., terlebih dahulu menyampaikan pesan singkat kepada mahasiswa baru. Ia menekankan pentingnya mahasiswa menjalani Tri Dharma Perguruan Tinggi: belajar, meneliti, dan mengabdi. “Waktu berjalan begitu cepat. Kalau lancar, delapan semester sudah cukup untuk menyandang gelar sarjana di IAN dan dapat pekerjaan.

Tapi ingat, bukan hanya soal bekerja. Lulusan harus beriman, beramal, dan berilmu. Tidak cukup hanya cerdas, tapi juga beriman dan beramal,” pesannya.

Meski hujan mengguyur hingga sore, semangat para mahasiswa tidak surut. Stadium Generale kali ini bukan hanya membuka tahun akademik baru, tetapi juga membuka kesadaran: bahwa di pundak merekalah masa depan peradaban Islam diletakkan—sebagai agen perubahan yang siap bergerak dan membangun. (aryodewo)

 

Leave a Comment