JAKARTA (Pos Sore) – Bencana longsor tengah terjadi di Dusun Jemblong, Banjarnegara, Jawa Tengah. Longsor yang menenggelamkan puluhan rumah dan jiwa melayang. Mengapa ini bisa terjadi?
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) punya analisa tersendiri mengapa hal itu terjadi. Ada beberapa penyebab.
“Pertama, material penyusun Bukit Telagalele adalah endapan vulkanik tua yang sudah lanjut dan lapuk sehingga solum atau lapisan tanah cukup tebal dan terjadi pelapukan,” ungkap Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB di Jakarta, Selasa (16/12).
Kedua, kemiringan lereng lebih dari 60%. Saat kejadian, mahkota longsor berada pada kemiringan lereng 60-80 persen. Ketiga, pada 10-11 Des 2014 turun hujan deras sehingga tanah jenus air dan timbul retakan di punggul bukit. Saat kejadian longsor hujan hanya gerimis.
Keempat, budidaya pertanian di Bukit Telalalele tidak menerapkan konservasi tanah dan air. Tanaman di atas bukit tempat terjadinya longsor adalah tanaman semusim, dengan jenis palawija, yang tidak rapat. Akibatnya, kondisi tanah menjadi longgar dan mudah terbawa air.
“Penyebab longsor tidak lepas dari ulah manusia sendiri. Budidaya pertanian yang tidak mengindahkan konservasi juga jadi penyebab. Kondisi tanah dan air di lokasi kejadian, di mana tidak ada terasering pada lereng tersebut,” paparnya.
Dalam analisa BNPB, Dusun Jemblung di dalam peta merupakan daerah yang rawan longsor dengan intensitas sedang-tinggi. Maka, pada dua hari menjelang terjadinya longsor, yaitu pada tanggal 10-11 Desember, wilayah di sekitar Dusun Jemblung, Banjarnegara, diguyur hujan yang cukup deras. Akibatnya, tanah di lokasi tersebut menjadi penuh dengan air.
“Karenanya, masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan. Puncak hujan diperkirakan akan meningkat hingga Januari mendatang. Pola kejadian longsor umumnya kejadian longsor paling banyak berlangsung pada Januari hingga Februari,” tegasnya. (tety)
