CIAWI (Pos Sore) — Ketua Asosiasi Gabungan Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Noegarjito menyatakan siap memproduksi kendaraan berbahan bahan bakar gas (BBG) asalkan infrastruktur BBG sudah disiapkan pemerintah.
“Kita siap memproduksi dalam waktu singkat, paling tidak dua tahun,”katanya pada Workshop dan Family Gathering Forum Wartawan Industri di Ciawi, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (13/12).
Menurutnya, hingga sejauh ini belum banyak orang memakai BBG karena memang infrastrukturnya belum mendukung. “Kalau memang wajib, kita siap.”
Padahal dari sisi harga,katanya, jauh lebih murah ketimbang harga bensin dan juga tidak menimbulkan polusi udara.
Sementara itu, Direktur PT Toyota Astra Motor (TAM), I Made M Tangkas mendesak pemerintah segera mengeluarkan aturan yang mewajibkan semua masyarakat menggunakan BBG untuk kendaraan bermotor. “Kalau ada aturan wajib saya pikir pengusaha dan masyarakat siap. Semua pengusaha juga akan siap memproduksi kendaraan bermotor dengan menggunakan BBG.”
Kendati penyediaan infrastruktur belum ada Kepala Humas Perusahaan Gas Nasional (PGN), Riza Ababil mestinya prioritas penggunakan BBG diberikan untuk kendaraan bermotor. “Walaupun ketersediaan infrastruktur belum memadai dan gas kita lebih banyak untuk ekspor,tetapi harus dilakukan.”
Tentunya, kata Riza, infrastruktur BBG ini bisa berjalan mulus jika ada jaminan pasokan gas. “PGN butuh jaminan pasokan gas 25 – 30 tahun ke depan.”
Sudah Lama Disiapkan
Direktur Alat Angkut, Ditjen Industri Unggulan dan Teknologi Tinggi, Kementerian Perindustrian, Soeryono, mengatakan, pemerintah sebenarnya sudah lama memprogramkan konversi bahan bakar minyak (BBM) ke BBG yakni dengan program konverter kit di kendaraan bermotor.
“Pemasangan konverter kit ini dimulai dari sejumlah taksi. Namun, kenyataannya banyak masyarakat takut menumapang taksi yang menggunakan BBG yang pakai konvertir kit karena takut gas meledak. Banyak angkot kita tawarkan agar kendaraan mereka pasang konverter kit namun mereka tidak bersedia karena takut meledak.”
Sebenarnya, kata Soerjono, Indonesia mempunyai perusahaan yang memproduksi konverter kit di Cikarang, Jawa Barat tetapi produknya diekspor ke Thailand karena di Indonesia tak laku di jual di dalam negeri. (fitri)
