JAKARTA (Pos Sore) – Pemerintah harus segera menuntaskan masalah konflik di daerah-daerah yang masih saja terjadi. Karena, ternyata situasi ini berdampak buruk bagi tumbuh kembang anak.
Dalam kacamata psikolog, anak yang lahir dan dibesarkan di daerah konflik, cenderung memiliki perilaku khusus, bahkan menyimpang.
“Anak-anak Aceh misalnya, saya menemukan anak yang lahir dari ibu yang hidup di tengah konflik ternyata menjadi anak dengan kebutuhan khusus (ABK), mulai dari down syindrom, autis, hingga cacat fisik lainnya,” kata psikolog Poppy Amalya, di Jakarta, kemarin.
Motivator itu bahkan terkaget-kaget, setelah diteliti 1 dari 5 keluarga di Aceh yang hidup di daerah konflik ternyata memiliki anak berkebutuhan khusus. Poppy masih belum bisa memahami mengapa konflik membawa dampak buruk bagi tumbuh kembang seorang anak.
“Tidak hanya saat anak sudah lahir, bahkan ketika anak masih dalam kandungan sang ibu! Aceh didera konflik sudah 35 tahun. Dan dampak dari konflik yang berkepanjangan tersebut ternyata sangat buruk untuk anak-anak,” tandas Poppy yang juga dilahirkan di Aceh ini.
Jelas Poppy prihatin. Berangkat dari keprihatinan ini, Poppy pun terpanggil membangun tanah kelahirannya dengan mendirikan Yayasan Amanah Kamome dan sekolah ABK My Hope. Melalui dua lembaga ini Poppy berupaya memberikan kemampuannya sebagai seorang motivator psikologi bagi anak-anak Aceh.
My Hope sendiri sekolah alternatif bagi ABK (Anak Berkebutuhan Khusus), dengan penerapan metode ABA (Apply Behaviour Analysis), sebagai metode yang dinilai terbukti paling berhasil di dunia, yang menjadikan anak autis meninggalkan dunia autisnya.
Selain itu, My Hope memberikan berbagai macam jenis terapi, seperti terapi perilaku, terapi sensori integrasi, brain gym, detoksifikasi, practical life, speech therapy, floor time therapy, terapi edukasi, dan juga mengajarkan ABK untuk dapat berbisnis, melalui market day.
Untuk pendanaan yayasan dan sekolah tersebut Poppy berusaha membiayainya dari kantongnya sendiri dan akhirnya Poppy mendirikan sebuah lembaga psikologi bernama PSIKODINAMIKA. Lembaga psikologi ini telah menjadi pilihan masyarakat untuk menangani anak-anak berkebutuhan khusus.
“Alhamdulillah dengan metode ikhlas, saya berhasil memperbaiki anak-anak berkebutuhan khusus bisa tumbuh dan berkembang jauh lebih baik dari sebelumnya,” tutur mantan pramugari Garuda Indonesia ini. (tety)
