JAKARTA (Pos Sore) — Tahun 2016 sudah berlalu. Namun peristiwa kebencanaan tidak bisa dilupakan begitu saja. Sebut saja banjir bandang di Garut (20/9), Bandung (24/10), Gorontalo (25/10). Cuaca ekstrim di wilayah tinggi yang memicu strom side juga terjadi pada minggu I Juni 2016 di Pantai Barat Sumatera, Selatan Jawa, hingga Lombok.
“Wilayah pulau Jawa, terutama provinsi Jawa Barat memiliki tingkat frekuensi tertinggi kejadian bencana hidrometeorologi,” kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Andi Eka Sakya, terkait kilas balik dampak kejadian cuaca, iklim, dan kegempaan di Indonesia pada 2016, di Jakarta, Kamis (5/1).
Pada 2016 juga terjadi beberapa badai siklon tropis di wilayah perairan sebelah utara dan selatan dekat Indonesia yang membawa efek terhadap ekstrimitas cuaca di Indonesia.
Berdasarkan rekam jejak kejadian siklon tropis, pada Agustus, terjadi 187 kejadian siklon tropis di wilayah perairan sebelah utara dekat Indonesia. Sedangkan untuk siklon tropis yang terjadi di sebelah selatan sebanyak 58 kejadian.
Peristiwa alam yang terjadi pada 2016 bukan itu saja. Dilihat dari kondisi variabilitas dan perubahan iklim, adanya peningkatkatan curah hujan di beberapa wilayah yang menjadikan curah hujan tahunan 2016 dibanding tahun sebelumnya lebih basa di seluruh Indonesia.
“Kondisi ini tidak sebasah jika dibandingkan tahun 1998 karena pada 2016 La Nina dalam kategori lemah. Pada tahun 2016, Indonesia memasuki masa ‘kemarau basah’,” ungkapnya.
Mengenai suhu maksimun, tertinggi terjadi di Kota Baru (Kalsel) yaitu mencapai 38,4 derajat selsius pada 15 Mei dan suhu minimun terendah terjadi di Enarotali Papua dengan suhu 10,2 derajat selsius pada 5 Maret.
“Dengan melihat tren kenaikan suhu, maka di sepanjang 2016 pun terjadi penyebaran hotspot. Berdasarkan data wilayah, Kalbar memiliki jumlah hotspot tertinggi dengan 944 titik, lalu Riau dengan 684 titik, dan Papua dengan 569 titik,” paparnya.
Andi berpendapat posisi geografis Indonesia di satu sisi berkah, namun di sisi lain juga ‘bahaya’. Indonesia yang diapit oleh dua benua, dua samudera, dilalui ‘ring of fire’, serta terletak di atas katulistiwa dan di atas 3 lempeng tektonik, menjadikannya rentan terhadap berbagai bentuk bencana hidrometeorologi dan geologi sebagai dampak dari fenomena cuaca, iklim, kegempaan serta posisi geografisnya.
“Tingkat kerentanan di setiap wilayah tidak merata dan ekspose cuaca, iklim dan kegempaan pun memberikan dampak yang berbica dari satu daerah dengan daerah yang lain,” katanya. (tety)
