08/05/2026
Aktual

Kerajaan Cantung, Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan

cantung

JAKARTA (Pos Sore) — Deputi V Koordinasi Kebudayaan, Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Haswan Yunas, menegaskan, perkembangan peradaban dan kehidupan masyarakat modern tidak boleh menjadi penyebab tergesernya nilai budaya dan sejarah bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai sejarah bangsanya.

“Dari sejarahlah kita mendapat banyak sekali pelajaran yang berharga. Mempelajari sejarah dan budaya menjadi menarik dan menyenangkan. Sejarah dapat dijadikan bahan pembelajaran, evaluasi serta motivasi untuk menapak masa depan,” katanya saat membuka lokakarya bertema ‘Menggali Sejarah Kerajaan Cantung untuk Menemukenali Nilai Budaya dan Kesejarahan Kalimantan Selatan’, di Auditorium Kantor Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Jakarta, Rabu (17/6).

Menurut Haswan, mempelajari sejarah dan budaya menjadi menarik dan menyenangkan. Terlebih jika itu disadari sebagai upaya pelestarian sejarah. Dengan mempelajari sejarah juga, ada perubahan persepsi dalam pikiran setiap orang yang akhirnya membangkitkan rasa cinta tanah air dan nasionalisme di kalangan generasi muda.

Haswan menambahkan, peran pemerintah menjadi penting dan strategis dalam upaya memfasilitasi lembaga adat dan pihak-pihak yang peduli terhadap penggalian sejarah bangsanya. Lewat penelusuran dan pengungkapan sebuah sejarah, membuat generasi muda paham dan mengetahui apa yang menjadi kekayaan bangsanya.

“Sejarah lokal di Kerajaan Cantung, misalnya, diharapkan dapat menjadi norma, ajaran dan kearifan lokal yang mampu membentuk identitas masyarakat sekitar dan pengetahuan bagi seluruh masyarakat Indonesia,” kata Haswan.

Keturunan keempat Keluarga besar Pangeran Koesoemanegara, Hendri Nindyanto, menambahkan, pihaknya sengaja melakukan lokakarya penggalian sejarah, sebagai upaya penguatan silaturahim dan pengungkapan sejarah. Sebab Pangeran Koesoemanegara yang memimpin Cantung, Banjar, Kalimantan Selatan di era 1780-an, telah dibuang ke Bondowoso Jawa Timur oleh pemerintah kolonial Belanda, sejak 1864 sampai meninggal pada 1900. Sejak saat itu, keturunan keluarga pewaris tahta Cantung berada di Jawa Timur.

“Karena itu, untuk berkontribusi pada tanah leluhur dan masyarakat Banjar di Kalimantan, lokakarya digelar. Kita berharap ada persatuan kembali diantara generasi yang tercerai berai akibat politik adu domba Belanda kala itu,” ujar Hendri.

Menjejaki sejarah dan budaya Cantung tidak ditujukan untuk sekedar mengenali nama benda atau bangunan, tapi juga untuk menyadarkan bahwa di sekitar kita banyak bertaburan norma dan ajaran yang bernilai tinggi dan positif.

Itulah kearifan yang masih bisa digunakan dalam menjalani kehidupan di masa mendatang; norma, ajaran, dan kearifan yang telah membentuk identitas masyarakat Suku Banjar.

Lokakarya menghadirkan sejumlah keluarga Kerajaan Cantung, ahli sejarah dan masyarakat Kalimantan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. (tety)

2 comments

Leave a Comment