13.9 C
New York
04/05/2026
Aktual

Kenali Alergi Sejak Dini Untuk Dukung Pertumbuhan Optimal Si Kecil

JAKARTA (Pos Sore) — Indonesia belum memiliki data epidemiologi penyakit alergi pada anak secara nasional. Sementara berdasarkan International Study of Asthma and Allergies in Childhood, menyebutkan prevalensi alergi anak semakin meningkat, termasuk di negara Asia Pasifik seperti Indonesia.

Menurut Prof. DR. Dr. Budi Setiabudiawan, Sp.A(K), M.Kes, Ketua Unit Kerja Koordinasi Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, dari tahun ke tahun, angka kejadian penyakit alergi semakin meningkat. Penyakit alergi seperti asma, rhinitis alergi, alergi makanan, dan dermatitis atopi diderita oleh 30-40% dari total populasi di seluruh dunia.

World Health Organization (WHO) memprediksi prevalensi asma akan mencapai 400 juta orang pada tahun 2025 dan sekitar 50%nya diperkirakan menderita alergi makanan. World Allergy Organization (WAO) memperkirakan 1,9-4,9% anak-anak di dunia menderita alergi protein susu sapi (CMA).

“Penyakit yang timbul akibat alergi bisa ditangani secara medis, namun karena tidak dikenali sebagai gejala alergi, maka keluhan penyakit tetap ada dan mengganggu,” dalam Media Briefing ‘Morinaga Allergy Week’ bertajuk ‘Kenali Alergi Sejak Dini Untuk Dukung Pertumbuhan Optimal Si Kecil’, yang diadakan Kalbe Nutritionals, di Jakarta, Jumat (17/4).

Sebagai langkah awal, wujud nyata dari Unit Kerja Koordinasi Alergi Imunologi Ikatan Dokter Anak Indonesia berupaya melakukan pencatatan nasional di tahun 2015 ini untuk bisa membangun data seputar alergi anak seperti jumlah, alergi yang umum diderita, pada usia berapa umumnya alergi pertama muncul dan lain sebagainya.

“Pendataan harus dilakukan secara kontinyu untuk bisa menemukan penyebab umum alergi pada anak guna mengatasinya, agar anak-anak yang menderita alergi, bisa tetap tumbuh secara optimal,” katanya.

World Allergy Week sendiri merupakan program tahunan inisiasi World Allergy Organization (WAO) dalam rangka meningkatkan pemahaman mengenai alergi dan penyakit lainnya yang terkait, serta menggagas pelatihan dan sumber daya untuk melakukan diagnosa dan tindakan pencegahan. (tety)

Leave a Comment