JAKARTA (Pos Sore) — Pertama kalinya, Kementerian Ristek dan Pendidikan Tinggi memperingati Hari Pendidikan Nasional. Di lingkungan kementerian ini, Hardiknas mengangkat tema ‘Dengan Hari Pendidikan Nasional, Kita Tingkatkan Mutu Pendidikan Tinggi, Riset dan Inovasi untuk Mendukung Daya Saing Bangsa’.
Menristek Dikti, Mohamad Nasir, mengatakan, adalah tepat untuk memperingati Hari Pendidikan Nasioanal di lingkungan perguruan tinggi. Mengapa? Karena, sebentar lagi, Masyarakat Ekonomii Asean akan mulai diberlakukan. Aliran barang, tenaga kerja terampil, dan investasi antar negara Asean menjadi lebih bebas.
“Di sisi lain, tuntutan masyarakat terhadap perguruan tinggi meningkat. Itu sebabnya, betapa pentingnya Hari Pendidikan Nasional diperingati di Kementerian Riset dan Perguruan Tinggi. Peringatan Hardiknas kali ini mengingatkan kita semua betapa pentingnya sekarang ini meningkatkan mutu pendidikan tinggi, riset, dan inovasi untuk meningkatkan daya saing bangsa,” tegasnya, usai upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional, di Kementerian Ristek Dikti, Sabtu (2/5).
Menurutnya, pemuda, mahasiswa, dan perguruan tinggi selalu menjadi garda terdepan dalam setiap perubahan penting di Indonesia. Sekarang ini, tiba saatnya perguruan tinggi melakukan gerakan untuk meningkatkan mutu pendidikan tinggi, riset, dan inovasi untuk meningkatkan daya saing bangsa.
Pemerintah dan pendidikan tinggi, katanya, telah banyak melakukan usaha agar dapat meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Di antaranya, penyusunan Undang-Undang Pendidikan Tinggi tahun 2012 dan Peraturan Pemerintah turunannya, penyusunan dan penetapan Standar Nasional Pendidikan Tinggi, serta pembentukan Perguruan Tinggi Badan Hukum.
“Namun, secara nasional masih banyak yang harus diperjuangkan untuk mencapai sasaran mutu pendidikan tinggi. Di antaranya, jumlah perguruan tinggi yang masuk 500 perguruan tinggi terbaik dunia, peningkatan jumlah publikasi yang masuk indeks bereputasi, jumlah perguruan tinggi yang terakreditasi unggul, dan jumlah program studi yang terakreditasi internasional. Semua sasaran mutu pendidikan tinggi ini yang masih jauh dari harapan,” ujarnya.
Menurutnya, harapan masyarakat terhadap pendidikan semakin meningkat. Sekarang ini, masyarakat beranggapan tidaklah cukup bagi perguruan tinggi untuk bisa melaksanakan pendidikan tinggi yang bermutu. Masyarakat berharap perguruan tinggi mampu mendukung dayasaing bangsa melalui penelitian inovatif, yang dapat memberikan dampak ekonomi langsung pada masyarakat.
“Karena keterbatasan anggaran, selama ini penelitian perguruan tinggi berhenti sampa pada pembuatan prototype skala laboratorium, publikasi internasional, dan perolehan HAKI,” ujarnya.
Menteri menandaskan, dengan meningkatnya anggaran penelitian lewat Biaya Operasional PTN (BOPTN) yang pada tahun ini mencapai Rp4,55 triliun, maka penelitian di perguruan tinggi harus bisa dilanjutkan sampai pada komersialisasi atau hilirisasi hasil penelitian.
Dengan bergabungnya sektor riset dan teknolologi dengan pendidikan tinggi dalam Kemenristek Dikti, maka sinergi program, sumberdaya, pengalaman, jaringan Ristek – Dikti bisa dilakukan dan hilirisasi hasil penelitian di perguruan tinggi menjadi semakin mungkin dilakukan.
Ada dua cara pendidikan tinggi bisa memberikan dukungan terhadap dayasaing bangsa. Pertama, dengan menghasilkan tenaga terampil yang dibutuhkan oleh lapangan kerja. Kedua, menghasilkan inovasi yang bisa memberikan manfaat ekonomis secara langsung bagi masyarakat. (tety)
