08/05/2026
Aktual

Kementan: Produksi Padi 2016 Alami Kenaikan 4,97 Persen

img_20161101_095925

JAKARTA (Pos Sore) — Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Hasil Sembiring mengatakan berdasarkan angka perhitungan bersama Badan Pusat Statistik (BPS) terkait perkiraan produksi selama tahun 2016, akan ada kenaikan produksi padi.

Diperkiraan produksi sepanjang 2016 sebesar 79,14 juta ton gabah kering giling (GKG), atau naik dari tahun lalu sebesar 75,39 juta ton GKG. Angka tersebut mengalami kenaikan sebanyak 3,74 juta ton atau 4,97 persen dibandingkan produksi 2015.

“Kenaikan produksi padi diperkirakan terjadi di pulau Jawa sebesar 1,22 juta ton, dan pulau luar Jawa sebanyak 2,52 juta ton. Kenaikan produksi ini terjadi karena kenaikan luas panen seluas 0,92 juta hektar, walaupun produktivitas turun sebesar 0,77 kuintal per hektar,” ujar Hasil, di kantor Ditjen Tanaman Pangan Kementan, Pasar Minggu, Jakarta, Selasa (1/11).

Dikatakan, angka perkiraan tersebut dihimpun dari realisasi produksi padi selama periode Januari hingga Agustus 2016, ditambah dengan asumsi perkiraan produksi pada September-Desember 2016.

Berdasarkan data Kementan tercatat luas panen pada 2016 sebesar 15,03 juta hektar. Adapun luas tersebut naik dari tahun 2015 sebanyak 14,16 juta hektar.

“Salah satu faktor yang mendorong peningkatan produksi pangan ini adalah dengan adanya sejumlah upaya khusus dari pemerintah dalam meningkatkan produktivitas. Di antaranya, dengan suplai alsintan yang secara rutin dilakukan, serta subsidi pupuk dan benih yang selalu diberikan pemerintah,” paparnya.

Menurutnya, dengan adanya upaya khusus tersebut, peningkatan produksi sejumlah komoditas strategis akan terus meningkat.

Sementara itu, produksi kedelai tahun 2016 akan mengalami penurunan. Penyebabnya, banyak petani yang lebih memilih menanam padi dan jagung sehingga membuat produksi kedelai semakin turun.

“Prediksi produksi kedelai tahun ini 885,58 ribu ton biji kering, atau turun 77,61 ribu ton dibandingkan produksi 2015. Penurunan produksi tersebut diperkirakan terjadi di Jawa dan luar Pulau Jawa masing-masing 75,27 ribu dan 2,34 ribu ton,” katanya.

Angka prediksi tersebut dihitung dari realisasi produksi kedelai Januari-Agustus 2016, ditambah dengan ramalan produksi September-Desember tahun ini berdasarkan luas tanam.

Menurutnya, terjadi penurunan luas panen 26,12 ribu hektar di tahun ini mempengaruhi produksi kedelai dan semakin rendahnya produktivitas. Itu sebabnya, Indonesia rutin mengimpor lebih dari 2 juta ton kedelai dari Amerika Serikat setiap tahunnya.

“Memang menyedihkan. Impornya bisa naik, karena selama ini impor tak dikendalikan. Padahal tahun 1992 luas panen kita saat itu sampai 2 juta hektar. Sekarang luas panen hanya 587 ribu hektar,” ucap Hasil.

Ia menyebut, penurunan produksi kedelai paling besar diperkirakan terjadi di Jawa Timur dengan produksi pada tahun 2016 diperkirakan 298 ribu ton, Aceh 23 ribu ton, dan Nusa Tenggara Barat 110 ribu ton. (tety)

Leave a Comment