30/04/2026
Aktual

Kementan Akan Perketat Impor Daging Sapi Bakalan

JAKARTA (Pos Sore) — Kementerian Pertanian akan memperketat impor daging sapi bakalan atau yang belum digemukkan. Kementan mencatat realisasi impor sapi bakalan selama Januari-Juni 2015 mencapai 298.861 ekor, yang 20% di antaranya diimpor dari Australia.

Realisasi tersebut setara 40% dari realisasi impor sapi bakalan pada 2014. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan pada 2013 ada impor sebanyak 409.137 ekor sapi. Pada 2012 sempat ada pemangkasan kuota impor sapi bakalan dari 400.000 ekor menjadi 283.000 ekor.

Meski disadari langkah memperketat impor daging sapi bakalan berisiko terjadinya depopulasi atau pemotongan sapi-sapi betina lokal produktif. “Tapi inilah PR kita agar depopulasi tidak terjadi. Kami ingin berupaya tekan impor dengan memberdayakan peternak lewat Sentra Peternakan Rakyat,” tegas Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Muladno, di Jakarta, Senin (13/7).

Kementerian Pertanian memang tengah mencanangkan 211 Sentra Peternakan Rakyat (SPR) yang dinilai mampu memberdayakan ribuan petani beserta ternaknya dalam satu kawasan. Hingga saat ini sudah terbentuk 11 SPR di Indonesia.

Untuk menjadi kawasan SPR syaratnya minimal 500 orang peternak sapi, mencakup sapi perah maupun sapi potong dengan jumlah sapi tidak kurang dari 1.000 ekor. Langkah ini sebagai upaya menyiapkan beberapa program untuk mempercepat capaian target swasembada daging sapi pada 2019.

Program tersebut nantinya dibuat organisasi yang beranggotakan para peternak sapi termasuk ada Dewan Pengurus Peternakan. “Kami ingin buat manajemen peternakan rakyat yang bagus. Peternak diajari budidaya yang benar sampai soal manajemen pemasaran yang canggih,” ujarnya.

Mulando mengharapkan para peternak punya ilmu mulai dari beternak hingga teknik pemasaran yang handal. Menurutnya, SPR ini seperti tempat sekolah sekaligus organisasi bagi peternak rakyat. SPR juga dicanangkan untuk membenahi rantai distribusi pemasaran sapi yang selama ini dinilai Muladno belum tertata.

“Nantinya diharapkan sapi bisa dibuat satu harga berdasarkan bobot sapi. Beli sapi cukup kontak manajer. Beli sapi tidak seekor-seekor, tapi sekaligus satu truk dan peternaknya tidak perlu ikut,” paparnya.

Kementan juga tengah mempersiapkan program integrasi antara sapi dengan sawit. Yaitu menggabungkan antara peternakan dengan perkebunan sawit. Selain itu, uji coba angkutan kapal ternak dari kementerian perhubungan untuk angkut ternak dari sentra sapi di NTB, NTT ke Jawa dan daerah lain. (tety)

Leave a Comment