JAKARTA (Pos Sore) – Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Syarif Hidayat mengungkapkan, pihaknya segera menyusun peta jalan (road map) untuk hilirisasi industri manufaktur yang nantinya akan menjadi acuan dalam memberikan nilai tambah terhadap komoditas yang selama ini masih diekspor dalam bentuk mentah.
“Penghiliran ini sudah jadi pesan yang sangat kuat di kabinet. Kami harus mengkonkretkan produk-produk hilirisasi ini. Dari industri agro itu seperti sawit, cokelat dan karet. Kalau IKTA itu penghiliran migas dan batu bara. Begitu juga untuk mineral dan logam.”
Menurutnya, hal ini akan dibahas dalam rapat kerja yang rencananya akan digelar pertengahan Februari.Nantinya, setiap direktorat jenderal di bawah Kementerian ini bakal menyusun rancang bangun industri. Untuk membahas ini tentunya akan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dari sektor yang terkait,dari hulu hingga hilir.
“Penghiliran ini sudah jadi pesan yang sangat kuat di kabinet. Kami harus mengkonkretkan produk-produk hilirisasi ini. Dari industri agro itu seperti sawit, cokelat dan karet. Kalau IKTA itu penghiliran migas dan batu bara. Begitu juga untuk mineral dan logam,” ungkapnya Jumat (29/1).
Hilirisasi katanya, merupakan keharusan dalam upaya menekan ketergantungan ekspor komoditas bahan mentah yang tak memberikan nilai tambah.Padahal, di dalam negeri tersedia bahan baku cukup melimpah.
Sarif memaparkan hilirisasi industri ini tak sekadar menghilirkan komoditas, namun lebih bertujuan memancing dan merangsang industri hulu agar berinovasi meningkatkan nilai tambah agar industri semakin berkembang di tanah air.
“Seperti aluminium. Dulu masih dikuasai Jepang. Sekarang sudah punya kita, nanti kita bangun juga industri antara dan hilirnya. Kalau otomotif sudah cukup mapan. Tinggal pendalaman yang perlu ditingkatkan. Ini kembali lagi ke persoalan hulu.”
Yang jelas, roadmap tersebut akan disusun berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) dan Undang-undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian.
Sementara itu, Peneliti Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia Erna Zetha Rusman menambahkan,hasil penelitian selama ini membuktikan program hilirisasi ini ini cukup berhasil.
Seperti, industri minyak goreng kelapa sawit mampu menyumbang devisa terbesar pada periode Januari-November 2015, yaitu sekitar 43,57 persen dari total devisa yang dihasilkan industri makanan.Penyumbang devisa kedua terbesar dari kelompok industri makanan adalah industri makan kelapa sawit sebesar 21,81 persen.(fitri)
