5.7 C
New York
26/04/2026
Ekonomi

Kemenperin Kaji Ulang Insentif BMDTP Produk Plastik

JAKARTA (Pos Sore) –Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka. Kementerian Perindustrian, Harjanto mengungkapkan, akan mengkaji ulang pemberian insentif  Bea Masuk Ditanggung Pemerintah (BMDTP) untuk produk palstik. Hal ini diungkapkan menyusul adanya program pemerintah mengurangi kerusakan lingkungan akibat produksi plastik yang tidak ramah lingkungan.

“Kita prinsipnya mendukung kalau untuk lingkungan. Saya fikir di negara lain juga sama.Melakukan hal lebih disiplin untuk tidak menggunakan barang-barang yang bisa merusak lingkungan. Tetapi di sisi industri kita juga harus bisa mendorong dan mempromosikan biodegradable plastic,” ungkapnya di Kementerian Perindustrian, Senin (29/2).

Harjanto mengungkapkan,pihaknya sudah pernah menyambangi industri plastik berteknologi ramah lingkungan yang selama ini berorientasi ekspor. Industri plastik yang berlokasi di Tanggerang ini menggunakan bahan baku dari tanaman singkong. “Ternyata tanaman singkong itu bisa digunakan untuk produk packaging. Saya sudah sampaiksn ke pak menteri, someday kita berpikir bagaimana mempromosikan teknologi biodegradable ini ke depan.”

“Kita prinsipnya mendukung kalau untuk lingkungan. Saya fikir di negara lain juga sama.Melakukan hal lebih disiplin untuk tidak menggunakan barang-barang yang bisa merusak lingkungan. Tetapi di sisi industri kita juga harus bisa mendorong dan mempromosikan biodegradable plastic.”

Ke depan, katanya, Kemenperin akan lebih mendorong pemberian insentif BMDTP untuk industri yang mampu menghasilkan produk palstik berbahan baku lokal dan ramah lingkungan. “Industri secama ini yang harus diberikan insetif, tidak industri plastic yang selama ini sudah ada.”

Dengan begitu, ungkapnya, plastik yang digunakan saat ini benar-benar dimanfaatkan untuk keperluan yang tidak tergantikan oleh biodegradable dan sangat selektif. “Sekarang sangat diumbar-umbar dan masyarakat kita belum disiplin menggunakan plastik, sehingga lingkungan kita sangat tercemar.”

Dengan Program Plastik berbayar,katanya, sebagai langkah bagus dari pemerintah, sehingga tarif khusus ini mendorong orang membawa tas khusus jika berbelanja. Di negara lain seperti Amerika juga melakukan itu, hal yang dilakukan Indonesia ini bukan hal baru.

Lihat saja Eropa, misalnya orang membawa kantong sendiri, kalau pakai plastik ya bayar. Kita seyogyanya menggunakan hal itu. Plastik ini kan juga ada recycle. Kantong ini aplikasinya luas sekali, pasar-pasar dll.
Maka kami harapkan ada proses recycle. Di botol minuman itu misalnya sudah recycle.

“Kita berharap nanti ada pemisahan mana yang disebut bahan unorganic, organic. Di negara lain itu dikelompokan,  sehingga barang-barang yang bisa direcycle itu direcycle.Kita sudah waktunya membuat lingkungan lebih bersih. Karena jika lingkungan bersih, ekonomi akan berkembang. Dari segi pariwisata orang akan lebih senang datang ke negara kita jika bersih. Tetapi jika berantakan dan kontor tidak akan.”

Sejatinya, kata Harjanto, skema recycle di Indonesia sudah ada. “Beberapa LSM yang saya ketahui intensif di bidang pengolahan sampah, bahkan kalau mau dibangun lagi di perkotaan, bisa kita kembangkan industri sampah. Sampah itu menurut negara maju bukan masalah, menjadi treasure kalau sudah bisa dikembangkan teknologinya.”

Di Jerman misalnya, kata Harjanto, mereka melihat sampah khusus sampah plastik bagian dari satu proses industri. Bahkan 13% sampah plastik dari sampah bisa dikelola sehingga industri menghasilkan profit. Sampah bisa menjadi bahan baku untuk industri tertentu.

Demikian pula sampah organic,katanya,bisa dijadikan energi untuk gas metan dan sebagainya. “Dari manajemen ini kita akan mendorong, sehingga pembuangan sampah yang sudah terbatas saat ini bisa dioptimalkan. Sampah bertambah terus, tetapi tempat pembuangan sampah tidak bertambah.” (fitri)

Leave a Comment