22 C
New York
24/04/2026
AktualEkonomi

Kemenkop Kembali Adakan Gerakan Kewirausahaan Nasional

JAKARTA (Pos Sore) — Kementerian Koperasi dan UKM kembali mendengungkan Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) guna menciptakan wirausaha baru di Indonesia. Belajar dari kelemahan tahun-tahun sebelumnya, GKN kali ini juga diberi pendampingan.

“Kelemahan GKN selama ini adalah kurangnya pendampingan, sehingga banyak calon wirausaha tidak berhasil dalam menjalankan sektor usaha,” kata Deputi Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Koperasi dan UKM, Prakoso Budi Susetyo, usai membuka GKN di kantor Bupati Kulonprogo, Jogjakarta, Sabtu (21/2)

Sebanyak lebih dari 400 orang, selama 3 hari mendapatkan pendidikan dan latihan untuk menjadi calon wirausaha baru di Indonesia. Setelah mendapatkan pelatihan, mereka akan diseleksi untuk mendapatkan bantuan permodalan sebesar Rp25 juta per orang dan mendapatkan pendampingan untuk pengembangan usahanya.

“Gerakan Kewirausahaan Nasional di Kulonprogo Jogjakarta ini yang pertama di seluruh Indonesia,” tambahnya.

Selanjutnya GKN akan digelar di setiap daerah dan propinsi Indonesia untuk memberikan pelatihan dan pendampingan bagi calon-calon wirausaha, dan naik kelas dari pelaku usaha mikro ke kecil.

“Mereka rata-rata telah memiliki usaha. Didorong, dilatih dan pendampingan untuk naik kelas, mikro ke kecil,” katanya.

Belajar dari ‘kesalahan’ sebelumnya, Kementerian Koperasi dan UKM mengalokasikan dana dekon untuk pendampingan sebesar Rp100 miliar se-Indonesia. Dana dekon tersebut akan didistribusikan ke pemerintah daerah di Indonesia, untuk menentukan pendampingan wirausaha, sesuai dengan potensi daerah masing-masing.

Ia menargetkan secara nasional sebesar 2 persen dari total jumlah penduduk Indonesia menjadi wirausaha. Selain itu, mereka bisa naik kelas dari pelaku usaha mikro menjadi kecil. Wirausaha yang mikro naik kelas menjadi kecil.

GKN akan menggali dan mengembangkan potensi daerah, melalui inovasi produk agar bisa bersaing dengan pasar Internasional.

Sementara itu, Wakil Bupati Kulonprogo, Jogjakarta, Sutedjo menjelaskan, GKN di Kulonprogo dilakukan dengan melakukan pendidikan dan pelatihan 5 jenis, yaitu pengolahan ikan, pengolahan buah rambutan salak, melon, menjadi sari buah, pelatihan tenun, konveksi dan menjahit tradisional.

“Kulonprogo penghasilan buah yang banyak, namun ketika panen harga jatuh, sehingga harus dikembangkan untuk inovasi produk,” katanya.

Ia berharap masyarakat Kulonprogo memiliki sumber daya manusia yang handal, terlebih menghadapi masyarakat ekonomi ASEAN. (tety)

Leave a Comment