11.1 C
New York
25/04/2026
AktualEkonomi

Kemenkop – BPOM Jalin Kerjasama Kembangkan UKM Jamu

JAKARTA (Pos Sore) — Menkop UKM AAGN Puspayoga terus menunjukkan komitmennya mengembangkan usaha kecil menengah. Kali ini perhatian pemerintah diberikan kepada UKM yang bergerak di industri herbal dan jamu. Tidak hanya masalah perizinan, tetapi juga memberi akses permodalan.

Saat ini terdapat 1.247 industri jamu, 129 unit berupa industri obat tradisional (IOT) dan selebihnya termasuk golongan Usaha menengah Obat Tradisional (UMOT) dan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa.

Agar industri herbal dan jamu ini terjamin keamanan dan kesehatan bahan-bahan bakunya, Kemenkop menggandeng Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Dalam kerjasama ini, badan yang dipimpin Roy Alex Sparingga itu memberikan pendampingan teknis dan pengawasan di bidang obat tradisional, kosmetika dan pangan. Dengan begitu diharapkan produk-produk UKM dapat bersaing di pasar domestik, regional, dan internasional.

“Ribuan jenis tumbuhan dapat diolah menjadi obat atau jamu, dan ini potensi luar bisa, Potensi herbal sebagai bahan jamu mencapai triliunan rupiah,” katanya usai penandatangan nota kesepahaman dengan BPOM, di Jakarta, Kamis (28/5).

Realitas itu didukung potensi kekayaan bahan baku herbal yang melimpah dan potensi iklim yang mendukung untuk mendukung bahan baku jamu, sehingga bisa dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan produksi jamu di Indonesia.

Komitmen mendukung dan memfasilitas industri jamu ini, kata Puspayoga, karena sektor ini menjanjikan banyak peluang kerja. Keberadanaan industri jamu mampu menyerap tenaga kerja lebih kurang 15 juta orang. Sebanyak 3 juta di antaranya terserap di industri jamu tradisional, dan 12 juta lainnya terserap di industri jamu yang berkembang ke arah makanan, minuman, food supplement, spa aroma terapi dan kosmetik.

“Potensi industri jamu nasional masih jauh lebih rendah dari potensi pasar produk jamu dalam negeri yang nilainya mencapai Rp 21 triliun. ‘Ini yang menjadi komitmen kita, agar masyarakat yang terkoneksi pada industry kecil seperti ini dapat meningkatkan kesejahteraannya,” katanya.

Pasar ekspor bahan baku obat herbal atau jamu Indonesia terbesar adalah Hongkong yang mencapai 730 ton atau 647 ribu dolar AS, disusul Jerman sebesar 155 ton atau senilai 112,4 ribu dolar AS. Sedangkan target ekspor lainnya adalah Taiwan, Jepang, Korsel dan Malaysia. Diperkirakan, lima tahun mendatang nilai pasar obat herbal dunia mencapai 150 miliar dolar AS. (tety)

Leave a Comment