JAKARTA (Pos Sore) — Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mengembangkan raport kesehatan di sekolah-sekolah. Ini adalah sejenis catatan riwayat kesehatan siswa mulai dari TK hingga menamatkan pendidikan tingkat SMA.
Dirjen Bina Gizi Kemenkes Dr Anung Sugihantono menjelaskan, buku raport kesehatan ini berisi tentang catatan kesehatan anak termasuk riwayat persalinan atau kelahiran anak dan cakupan imunisasi.
Buku saku kesehatan ini nantinya terintegrasi dengan buku monitoring kehamilan dan balita. Dengan cara demikian, buku saku kesehatan akan lebih komprehensif dan lebih lengkap.
“Kesehatan anak hingga remaja menjadi bagian penting untuk mencetak generasi muda yang sehat berkualitas. Itu sebabnya monitoring harus dilakukan dengan seksama dan lengkap,” katanya saat menerima sekolah penerima penghargaan UKS, di Jakarta, kemarin.
Dr Anung mengakui, buku raport kesehatan memang masih menjadi hal baru yang belum begitu popular di sekolah-sekolah. Tetapi Kemenkes akan terus berupaya mendorong Pemda untuk menerapkan program ini.
“Propinsi DKI Jakarta sudah mulai melaksanakan meski jumlahnya terbatas. Kita berharap daerah lain segera mengikutinya,” harapnya.
Menurutnya, kegunaan buku raport kesehatan tersebut tak sekedar memantau derajat kesehatan siswa. Tetapi sekaligus bisa dimanfaatkan untuk persyaratan memperoleh beasiswa atau bantuan pendidikan lainnya.
“Jika menjadi persyaratan beasiswa, tentu semua orangtua akan berupaya displin memenuhi hak imunisasi anak,” ujarnya.
Dikatakan, program buku raport kesehatan akan berjalan dengan baik jika unit kesehatan sekolah (UKS) juga berjalan dengan baik. (tety)
