JAKARTA (Pos Sore) –Anggota Badan Perlindungan Konsumen Nasional,Franciscus Wlirang, mengungkapkan, kondisi usaha kecil yang bergerak di industri makanan sudah terbiasa dengan krisis ekonomi.Justru yang dikhawarirkan adalah hasil sumber daya alam yang terus menurun mendekati krisis pangan.
“Ini harus terus dimonitor pemerintah mengingat kondisi cuaca, kekeringan, daya beli melemah, fluktuasi dolar terus bergejolak,” ungkapnya, Kamis (6/8).
Para pelaku UKM terus berupaya mempertahankan nilai jual walaupun harus memperkecil kemasan tanpa menaikan harga.
“Ini harus terus dimonitor pemerintah mengingat kondisi cuaca, kekeringan, daya beli melemah, fluktuasi dolar terus bergejolak.”
Khusus untuk pasar terigu turun 1,5 persen semester pertama sesudah lebaran Idul Fitri,katanya, masih sepi aktifitas.Industri masih meliburkan pekerjanya. Namun untuk terigu, industri mulai memenuhi kebutuhan pasar.
Yang menjadi persoalan justru jagung beras dan kedelai. Krisis ekonomi dan kekeringan ini ia nilai bersifat relatif, karena menyangkut pengadaan.Sepanjang perencanaan baik, maka krisis pangan ini tidak akan mengkhawatirkan akan terjadi krisis pangan.
Akhir November akan terjadi paceklik, ini harus menjadi perhatian pemerintah dan tantangan dari pemerintah terutama beras.
“Saya yakin pemerintah bisa merencanakan dengan baik. Dengan kebutuhan beras 2,5 juta ton per hari bisa dipenuhi. Maintanance waduk harus dilakukan, irigasi harus dibenahi agar jadwal tanam tidak bergeser.
Jika terjadi pergeseran waktu tanam pada Desember justru akan rawan. Namun, bulan ini panen singkong dan jagung. “Saya yakin tidak ada masalah, hanya saja dimusim kemarau ini sumber air cukup. Karena ada kebutuhan untuk masyarakat dan untuk tanaman.”
Krisis ini bukan hanya di Jawa akan tetapi juga di luar jawa, harus melihat kondisi di daerah. “Ini tantangan kita menjelang tahun ini.” (fitri)
