JAKARTA (Pos Sore) — Kelahiran prematur masuk dalam delapan besar penyebab kematian bayi. Dari setiap 15 juta bayi prematur yang lahir setiap tahun di seluruh dunia, satu juta akan meninggal.
Indonesia sendiri berada di urutan ke-5 dari 10 negara penyumbang bayi prematur terbanyak. Banyaknya jumlah bayi prematur karena jumlah penduduk Indonesia yang juga tinggi. Pada 2010 saja tercatat 250.000 lebih kelahiran bayi prematur.
Saat paling berbahaya dalam hidup bagi seorang bayi prematur ketika baru saja terlahir ke dunia. Bisa jadi karena persalinan prematur atau preterm, salah satu penyebab terbanyak kematian bayi, selain karena infeksi.
“Periode satu menit setelah lahir sangat menentukan tindakan selanjutnya,” kata Dr. Setyo Wandito SpA (K). M. Kes, tim medis Prinatal RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, di Jakarta, kemarin.
Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan mengapa banyak anak lahir dengan kondisi prematur di Indonesia. Salah satunya, usia ibu yang kurang dari 16 tahun atau lebih dari 35 tahun.
Angka kematian bayi di Indonesia saat ini masih tergolong tinggi, yakni 32 : 1.000 kelahiran. Sementara itu, data WHO memperlihatkan sebanyak 15 juta bayi terlahir prematur setiap tahun.
Di Indonesia, data WHO tahun 2013 menunjukkan angka kelahiran bayi pada 2010 sebanyak 4.371.800 jiwa. Dari jumlah tersebut, satu dari enam yang lahir mengalami prematur atau 15,5 per 100 kelahiran hidup (675.700 jiwa) terlahir prematur.
Bayi prematur termasuk dalam kelompok bayi berisiko tinggi. Mereka terlahir di usia kehamilan kurang dari 37 minggu dengan barat badan kurang dari 2.500 gram.
Hal itu membuat organ tubuh bayi belum cukup matang. Dengan tingkat kematangan tumbuh yang belum sempurna, bayi prematur berisiko tinggi mengalami masalah kesehatan.
Bayi prematur ibarat bayi yang belum matang. Hal ini menimbulkan masalah kesehatan mulai dari suhu tubuh, saluran pernapasan, sistem jantung dan pembuluh darah, sistem saraf, metabolisme, dan pencernaan. Selain itu juga berakibat pada terganggunya sistem kekebalan tubuh, pendengaran, dan penglihatan.
“Karena itu, diperlukan penanganan dan perawatan khusus bagi bayi prematur,” tandasnya. (tety)
