JAKARTA (Pos Sore) — Menteri Perindustrian Saleh Husen mengungkapkan, pertumbuhan industri pada 2014 mengalami perlambatan dari 6,33 persen menjadi 5,30 persen akibat dipengaruhi situasi politik ketika itu.
Akibatnya,banyak investor mengurungkan niatnya merealisasikan investasi karena masih ‘wait and see’. “Investor masih menunggu dan melihat situasi politik apa yang akan terjadi saat itu,” ungkap Saleh, Senin (22/12).
Kendati terjadi penurunan kinerja industri, kata Sale,h ke depan tidak ada program strategis atau gebrakan yang akan dilakukan mengingat pada pemerintahan Jokowi-JK, para menteri tidak diberikan kewenangan memiliki program.
Saat ini, katanya, kondisi pemerintahan tidak sama dengan pemerintahan sebelumnya. “Pada sidang kabinet, presiden menyatakan menteri tidak punya program hanya menjalankan program presiden.”
“Namun yang pasti, ke depan pengembangan industri harus tersebar merata ke seluruh Indonesia terutama di luar pulau Jawa.”
Untuk itu, katanya, pihaknya juga tidak memiliki tagline pengembangan industri ke depan seperti sebelumnya yang pernah ada seperti program hilirisasi industri yang dicetuskan Mantan Menteri Perindustrian MS Hidayat ketika itu.
Namun yang pasti, katanya, ke depan pengembangan industri harus tersebar merata ke seluruh Indonesia terutama di luar pulau Jawa.
Sementara itu, Dirjen Basis Industri Manufaktur, Haryanto menambahkan, terjadinya perlambatan pertumbuhan industri akibat beberapa kendala internal dan eksternal.
“Tahun ini tahun politik, jadi permintaan tidak besar. Di sisi lain, ketiadaan listrik, serta ketersediaan pasokan gas untuk proses produksi yang tidak memadai menjadi persoalan serius.”
Sekarang harga listrik terus naik. Sementara industri petrokimia, pupuk, plat baja juga kekurangan suplai gas. Ini berakibat pada kecilnya realisasi investasi disamping kecilnya nilai produksi dibanding konsumsi.
Faktor eksternal juga mempengaruhi pertumbuhan industri. Seperti di China yang mengalami perlambatan ekonomi tahun ini. Padahal impor baja dari negeri ini ke Indonesia cukup besar. Contohnya di Kawasan Ekonomi Eksklusif di Batam, dengan potensi pasar seluas 600 ribu ton dikuasai asing. (fitri)
